teks berjalan

karmany evadhikarãste te, mã phalesu kadãcana, mã karma-phala-hetur bhŭr , mã te sango ‘stv akarmani (B.G. Dwitiya adhyaya, sloka 47) -- Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula berdiam diri tanpa kerja.

Generasi Muda Hindu Anti Narkoba

Rabu, 29 Januari 2014

Kunjungan Kakanwil Ke Ruang Kerja Pembimas Hindu

KENDARI - Kamis, (23/1/2013) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. rakhman, M.Si. melakukan kunjungan ke ruang kerja seluruh Bidang di Kanwil, termasuk ruang kerja Pembimas Hindu. 

Ini merupakan kali pertama, Bapak Kakanwil mengunjungi ruang kerja Pembimas Hindu sejak dilantik 13 Desember 2013 lalu. 

Sebelum dilantik menjadi Kakanwil Kemenag Prov. Sultra, Drs. Rakhman, M.Si. merupakan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Muna, yang dulu juga sempat menjadi Kabid Mapenda di Kanwil Kemenag Sultra. (PKJ) 

Makna Ceritra Lubdhaka dalam Siwaratri

Lubdaka memetik daun Bila
Seorang pemburu bernama Lubdhaka, setiap hari mengelilingi hutan dan gunung. Hidupnya tidak pernah susah. Ia selalu bersenang-senang dengan anak dan istrinya. Sejak kecil ia tidak pernah berbuat kebenaran, kebajikan, perbuatannya hanya membunuh binatang seperti rusa, badak dan gajah. Itulah yang dilakukan setiap hari sebagai satu-satunya mata pencaharian yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pada hari keempat belas bulan ketujuh (panglong ping pat belas ke pitu), Lubdhaka berburu seorang diri kedalam hutan memakai bajuhitam kebiruan . Perjalannya ke dalam hutan menuju timur laut, ketika itu hujan gerimis, Ia melewati Pura besar (dharma agung) yang keadaanya sudah rusak, namun dewanya tetap kokoh berstahana di dalam relung pelangkiran. Oleh karena kekuatan keutamaan dari malam Siwa (siwaratri), keadaan hutan menjadi sepi. Keadaan ini membuat Lubdhaka berjalan sampai jauh ketengah hutan.

Kamis, 02 Januari 2014

Sejarah dan Kepemimpinan Ditjen Bimas Hindu

Jika kita mau meruntut asal mula dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu ternyata semua dimulai dari adanya tuntutan masyarakat Bali kepada pemerintah agar di Departemen Agama Republik Indonesia dibentuk bagian Hindu Bali, hingga akhirnya melalui proses panjang dengan tahapan- tahapan sebagai berikut :

1. Periode Tahun 1946 – 1952
Pada periode ini bisa dikatakan sebagai proses awal pembentukan wadah (Direktorat Jenderal) khususnya untuk agama Hindu dan Buddha dengan membentuk susunan organisasi Departemen Agama. Dalam periode ini pula di Bali timbul suatu reaksi, didasari oleh karena agama Hindu Bali itu dianggap sebagai suatu aliran/kepercayaan, sehingga timbul perjuangan untuk menyatakan agama Hindu sebagai agama bukan sebagai aliran, sehingga tahun 1952 khususnya untuk penduduk yang beragama Hindu di Bali oleh pemerintah daerah Bali dengan membentuk kantor Dinas Urusan Agama Otonomi. Umat Hindu di Bali tidak ada hentinya untuk terus mengupayakan serta mengusahakan dan memohon kepada pemerintah agar Agama Hindu diberikan tempat di lingkungan Departemen Agama RI. Tuntutan ini baru terlaksana pada tahun 1960 dengan dibentuknya bagian Urusan Hindu Bali pada Departemen Agama Republik Indonesia.

Materi Utsawa Menghafal Sloka UDG XII 2014

MATERI MENGHAFAL ŚLOKA
PESERTA ANAK-ANAK
BHAGAVADGĪTĀ ADHYĀYA (BAB II) - SAṀKYHA YOGA (Śloka 1-30)
SUMBER: Buku Bhagavadgītā oleh : G. Pudja, M.A.,SH.

MATERI MENGHAFAL ŚLOKA
PESERTA REMAJA
BHAGAVADGĪTĀ ADHYĀYA (BAB VI) - DHYĀNA YOGA (Śloka 1-30)
SUMBER: Buku Bhagavadgītā oleh : G. Pudja, M.A.,SH.

MATERI MENGHAFAL ŚLOKA
PESERTA DEWASA
SARASAMUCCAYA : KEAGUNGAN DHARMA, SUMBER DHARMA, DAN PELAKSANAAN DHARMA (Śloka 12-42)
SUMBER: Buku Sarasamuccaya  oleh : I Nyoman Kajeng, dkk.
Terjemahan dapat disingkat !

Artikel Menarik Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...