teks berjalan

karmany evadhikarãste te, mã phalesu kadãcana, mã karma-phala-hetur bhŭr , mã te sango ‘stv akarmani (B.G. Dwitiya adhyaya, sloka 47) -- Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula berdiam diri tanpa kerja.

Generasi Muda Hindu Anti Narkoba

Selasa, 05 September 2017

Tingkatkan Kerjasama Pelayanan Kerohanian, Kanwil Kemenag Sultra Teken MoU dengan RS Bhayangkara Kendari

Penandatanganan Nota Kesepakatan (MoU) Antara Rumah Sakit Bhayangkara Kelas III Kendari dengan Kanwil Kemenag Prov. Sultra Tentang Pemberian Kerohanian Kepada Pasien di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari

Kendari (Inmas Sultra) --- Kakanwil Kemenag Sultra, Dr. Abdul Kadir menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Kendari dr. Sukardi Yunus perihal pemberian kerohanian pasien rumah sakit, bertempat di Aula Rapat Kanwil Kemenag Sultra, Selasa (5/9).

Selasa, 11 Juli 2017

HASIL UDGN PALEMBANG 2017

Berikut hasilnya :
Sloka anak anak putra:
Jatim (harapan 3)
Sumsel (harapan 2)
Sulteng (harapan 1)
Bali (juara 1)
NTB (juara 2)
Kep. Riau (juara 3)
Sloka anak anak putri:
Kalteng (harapan 1)
Kaltim (harapan 2)
Sumsel (harapan 3)
Sulteng (juara 3)
Jatim (juara 2)
Bali (juara 1)

Selasa, 27 Juni 2017

KELUH KESAH DAN KERAGUAN

KELUH KESAH DAN KERAGUAN


Oleh : I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H


Om Swastyastu, tulisan ini hanyalah curahan hati yang disebabkan oleh gerak pikiran yang bergerak kesana-kemari, istrirahat sejenak lalu mengkotak-katik lektop untuk sebuah ikhtiar agar tetap terkendali disaat susah dan lelah menghampiri, mengingat susah-lelah akan terus memotivasi keluh-kesah dan keraguan dalam diri.  Secercah cahaya bhatin menyinari pikiran, lalu bergerak sampai pada “Disaat Bhagavan Shri Krishna memeberikan wejangan kepada Arjuna, dimana kala itu Arjuna larut oleh pengaruh daya kekuatan dari keluh kesah dan keraguan dalam dirinya, ketimbang memelihara sifat sifat Brahmana dan Kestria-nya. Pada saat itu Bhagavan Shri Krishna menanggapi pandangan dan perasaan yang dialami oleh Arjuna dan menjelaskan dasar-dasar pemikiran Samkhya- Yoga kepada Arjuna. Pranam. Om Subhamastu.

Senin, 26 Juni 2017

ENAM LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEDAMAIAN MENURUT KITAB ATHARVA VEDA

ENAM LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEDAMAIAN
MENURUT KITAB ATHARVA VEDA


Oleh : I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H


Untuk mengawali apa yang diwacanakan pada kesempatan ini, sebelumnya terimalah salam Panganjali Umat; “Om Swastyastu” dan Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.


I. PENDAHULUAN
Pada kesempatan ini kami akan membawakan materi dengan Tema “ Enam Langkah untuk menciptakan Kedamaian (Kerta Langu) di Bumi ”. Tema ini kami wacanakan dan haturkan kepada para pembaca umumnya dan khususnya umat sedharma untuk turut ikut serta dalam upaya memberikan sumbangan pemikiran Hindu tentang bagaimana menata hidup dan kehidupan ini agar tercipta kedamaian, demokrasi dan gender dalam kehidupan ini. Kedamaian atau Ketentraman (Kerta Langu), . adalah Dambaan seluruh sekalian alam baik secara kommunal maupun secara individual (personal). Maksudnya adalah Dambaan akan kedamaian itu tidak hanya bagi umat manusia, tetapi tumbuh-tumbuhan dan binatangpun memerlukan kedamaian itu. Kemudian perlu dipahami juga bahwa kedamaian itu bukan dibutuhan saat ini saja, tetapi kedamaian itu dibutuhkan oleh seluruh sekalian alam baik untuk masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Demikianlah Sabda, intruksi dan pesan dari Kitab Suci Veda yang harus kita ditindaklanjuti. Sehingga apabila dalam kehidupan ini setiap umat manusia umumnya dan khususnya umat Hindu mampu mewujudkan kedamaian itu maka ini sejalan dengan impian umat manusia yaitu untuk menciptakan Sorga di Dunia dapat kita wujudkan. Tetapi ternyata masih banyak umat yang keliru memaknai hidupnya khususnya tentang suasana alam sorgawi yang mereka dambakan disaat alam kematian, Mereka berharap masuk sorga atau menikmati suasana alam sorgawi disaat kematian tetapi melupakan suasana sorgawi dalam kehidupannya saat didunia pana ini. Pada hal proses kematian yang baik adalah  “Hidup yang baik dulu, baru mati yang baik”. Yakin tidak? Pemahaman ini ilmiah, Contoh; Anggaplah setiap orang kita andaikan seperti Playsdisk, kemudian masukan Playsdisk itu dalam sebuah  computer ternyata dalam computer itu ternyata data/file dalam playsdisk itu terkontaminasi oleh sebuah Virus. Dan selanjutnya masukan playsdisk itu ketempat computer yang lain maka data/file yang terkena virus akan terbawa oleh memory yang dibawa dari computer sebelumnya. Demikian pula halnya manusia Pengalaman kehidupan yang dilakukan dan dirasakan  dalam hidupnya didunia pana ini akan terbawa oleh memory manusia itu disaat Ia di Alam kematian nanti. Maka jelasnya kalau kita ingin Sorga atau Moksa di Alam kematian maka Kata Kuncinya kita harus bahagia (Hita) dulu di dunia ini. Coba Renungkan Tujuan Umat Manusia menurut ajaran Agama Hindu adalah “Moksartam Jagadhita” artinya Hendaknya Hita didunia (Jagadhita) dan Hita di akhirat disebut (Moksa).

KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU (Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)

KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU
(Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)



Oleh: I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H


I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kalau mencermati kehidupan  manusia memang unik adanya, keunikan ini karena menurut para ahli budaya manusia memiliki beraneka macam status seperti; Statusnya sebagai makhluk Religi, Indhividu, Sosial, Ekonomi, Hukum, Budaya (Cipta, Rasa dan Karsa),  Keindahan/harmonis, Butuh Pengakuan, Pekerja, Penilai, Pembelajar, Teratur / tertib, Tidak Teratur/tidak tertib, dll. Sehingga dari beberapa status itu manusia secara otomatis memiliki kebutuhan yang beraneka ragam  sesuai dengan kadar dari status-status yang ada dalam dirinya. Contoh: Kalau yang lebih banyak mempengaruhi kadar status / kebutuhan akan religi, maka prilaku orang itu kecenderungannya akan selalu menunjukkan aktivitas religi / ritual  dalam keseharinnya. Kalau yang mempengaruhi kebutuhan akan Indhividu dan Sosial, maka kadang kala manusia ingin hidup sendirian kadang pula ingin berkelompok, berkumpul satu sama lainnya agar dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Dan yang paling parah apabila kebutuhan akan ketidak teraturan/ketidak tertiban yang mempengaruhi dirinya maka aksi-reaksinya membawa dampak  menjadi mahluk yang susah diatur, susah teratur dan susah tertib. Khusus kebutuhan akan ketidak teraturan ini jangan dibiarkan sampai pada titik klimaks yang menggiring manusia terhadap perusakan sistem hukum apalagi sampai terjerumus pada kegelapan (timira).

Kamis, 22 Juni 2017

IWUH - Iuran Wajib Umat Hindu

-IWUH-
Iuran Warga bikin ingUH pengurus adat dan phdi desa  untuk memungut
Sedikit bayangan dan cerita… tersebutlah di sebuah Desa. Tadi paginya ada rapat adat dan PHDI di balai desa, di mana pengurus adat membicarakan tentang iuran pembangunan pura Khayangan Tiga setiap tahun Rp. 250.000,- per KK dan lanjut pengurus PHDI Desa menjelaskan terkait Dhana Punia yg tertuang dalam kitab2 suci Weda, dilanjutkan mensosialisasikan bhisama PHDI Prov. Sultra tentang IWUH… atau Iuran Wajib Umat Hindu sebesar Rp30.000,- per taun setiap KK.

Sabtu, 20 Mei 2017

Info PLPG dan Simpatika Guru Agama Hindu 2017

Peserta dan Pemateri pada kegiatan Bimtek Operator Simpatika, 15-17 Mei 2017 di Jakarta
Jakarta, (inmas sultra) - Berlakunya aplikasi SIMPATIKA di Kementerian agama, yang diinisiasi Ditjen Pendis Kemenag RI, dan untuk memudahkan dalam pencarian data Guru Agama dan juga pendaftaran PLPG untuk sertifikasi guru Agama, Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI menyelenggarakan kegiatan Bimtek Operator simpatika pusat dan daerah di Jakarta.

Dari informasi yang disampaikan pada kegiatan dimaksud, sampai kemarin (16/5/17), pusat tahun anggaran 2017 ini masih belum menganggarkan persiapan PLPG, Perguruan Tinggi Keagamaan yg ditunjuk pun belum menganggarkannya. Kalau seandainya di APBNP ada perubahan mungkin akan ada PLPG 2017 ini, jadi kemungkinan besar tahun ini ada ataPLPG itu 50:50. Terkait juga, pusat/Ditjen belum memiliki regulasi terkait PLPG, terutama bagi guru2 agama Hindu yg diangkat 2006- ke atas. Apakah guru Agama Hindu yg belum tersertifikasi akan di PLPG-kan atau PPG-kan (perbedaan PLPG dan PPG anda bisa buka di Google).

KEJELASAN STATUS "BMP" PADA PLPG 2014

Foto : Ibu Wiwik (jilbab putih) pemateri kegiatan Bimtek Operator Simpatika dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Bagi guru agama Hindu yang mengikuti UKA dan PLPG tahun 2014 di IHDN Denpasar Bali, perlu diketahui terkait hasil PLPG yg saat pengumuman dinyatakan berstatus BMP -> Belum Memenuhi Persyaratan, kami beritakan arti BMP itu adalah "Tidak Lulus", hal ini disampaikan oleh pemateri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat kami mengikuti kegiatan Bimtek Operator Simpatika daerah dan pusat (15-17 Mei 2017) di Hotel All Sesions Jakarta Gajah Mada.

Artikel Menarik Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...