teks berjalan

karmany evadhikarãste te, mã phalesu kadãcana, mã karma-phala-hetur bhŭr , mã te sango ‘stv akarmani (B.G. Dwitiya adhyaya, sloka 47) -- Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula berdiam diri tanpa kerja.

Generasi Muda Hindu Anti Narkoba

Selasa, 27 Juni 2017

KELUH KESAH DAN KERAGUAN

KELUH KESAH DAN KERAGUAN


Oleh : I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H


Om Swastyastu, tulisan ini hanyalah curahan hati yang disebabkan oleh gerak pikiran yang bergerak kesana-kemari, istrirahat sejenak lalu mengkotak-katik lektop untuk sebuah ikhtiar agar tetap terkendali disaat susah dan lelah menghampiri, mengingat susah-lelah akan terus memotivasi keluh-kesah dan keraguan dalam diri.  Secercah cahaya bhatin menyinari pikiran, lalu bergerak sampai pada “Disaat Bhagavan Shri Krishna memeberikan wejangan kepada Arjuna, dimana kala itu Arjuna larut oleh pengaruh daya kekuatan dari keluh kesah dan keraguan dalam dirinya, ketimbang memelihara sifat sifat Brahmana dan Kestria-nya. Pada saat itu Bhagavan Shri Krishna menanggapi pandangan dan perasaan yang dialami oleh Arjuna dan menjelaskan dasar-dasar pemikiran Samkhya- Yoga kepada Arjuna. Pranam. Om Subhamastu.

KELUH KESAH DAN KERAGUAN BERIMPLIKASI SUSAH-LELAH,
KELUH KESAH DAN KERAGUAN MENGHILANGKAN SUSAH-LELAH,
KELUH KESAH DAN KERAGUAN BERIMPLIKASI SUSAH-LELAH..., .
Keluh-kesah dan keraguan merupakan sikap negatif yang membawa energi negatif, pada gilirannya orang yang sebenarnya tidak terlalu sengsara menjadi sengsara betul. Belajarlah untuk tidak doyan berkeluh kesah dengan mensugesti diri sendiri dengan kata “saya tidak mampu”, “saya susah”, “saya sedih”, “saya miskin”, “saya bodoh”, “saya marah”, “saya benci”, dll hal yang sama dalam wujud penghakiman diri sendiri. Keluh kesah muncul dari dalam dari diri kita sendiri. Kalau kita apes biasanya karena ulah kita sendiri dan terkadang karena hal-hal sepele saja. Keluh kesah dan keraguan dapat menghilangkan kekuatan fisik dan rohani serta menutup sumber dan benih-benih kehidupan. Apabila kondisi sudah demikian, maka keluh kesah dan keraguan pasti akan membuat fisik dan rohani menjadi susah dan lelah.

KELUH KESAH DAN KERAGUAN GUNA MENGHILANGKAN SUSAH LELAH,
Keluh-kesah dan keraguan merupakan sikap negatif yang menyelimuti Fisik dan Rohani, yang harus dilebur menjadi pupuk organik untuk menyuburkan diri dengan kekuatan kesadaran dan sinar hati nurani yang sesungguhnya tetap bersinar di dalam diri sendiri. Hadapi dengan tekad tetapi bukan nekad, tetap merepleksi diri, berwiweka dan mawas diri. Kesadaran dan sinar Satyam (kejujuran dan kebajikan), Sivam (kesucian), Sundaram (kesejukan dan kesegaran) yang terkandung di dalam hati nurani terus dikelola dengan melakukan Tapa Fisik dan Rohani, dengan tetap bersabar, ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan, sehingga kekuatan Fisik dan Rohani tumbuh kembali. Niscayalah keluh kesah dan keraguan dapat menjadi pupuk organik yang menyuburkan benih-benih kehidupan di dalam diri sendiri, serta dapat membahagiakan diri bila tarka bhatin telah berhasil berada pada titik  kesadaran nurani yang tercerahi. Keluh-kesah susah-lelah pasti menjauh dari diri sendiri, mengingat bhatin yang suci adalah sthana atman yang merupakan percikan cahaya suci dari Hyang Widhi. Selanjutnya, upaya di luar diri sendiri yang dapat dilakukan sebagai sebuah interaksi dan komparasi; “Bergaulah dengan orang-orang suci, karena kekuatan orang-orang suci ada pada pengetahuan suci-nya. Wahyu suci pun wejangan-wejangan dari para guru suci, memberikan penguatan bahwa Pengetehuan Suci dapat melebur semua keluh kesah dan keraguan itu menjadi kekuatan suci yang tak tertandingi, karena pengetahuan adalah Panah Pasupati dan Perahu Suci, guna melebur musuh-musuh dalam diri dan mengarungi lautan samsara dalam kehidupan di dunia ini maupun di alam sunya nanti. Astungkara-swaha.

Pupuh Ginanti: “Dharma Stiti”

Kawit Bapa jani nyawus,
Ane madan Dharma Stiti,
Krunane malu artiang,
Dharma patut kategesin,
Stiti ne hidup tegesnya,
Ento angkep dados siki.

Renungan:
Sekar Alit ( Pupuh Ginanti) di atas mengandung sebuah pesan bahwa umat manusia atau Sisya Sista yang dibekali dengan Tri Pramana (Bayu, Sabda, dan Idep ) hendaknya dalam melaksanakan Dharma Kahuripan ini  diawali dengan upaya (utsaha) untuk mengetahui, memahami, memaknai dulu segala apapun itu, selanjutnya menyatukan dan mensinergikan pengetahuan, pemahaman dan pemaknaannya itu sebagai bahan untuk melakukan tarka bagi sang diri (jiwatman) yang putarannya secara internalisasi dan eksternalisasi, sehingga dari tarka itu akan muncul sebuah kesadaran dari sang Diri. Dengan kesadaran itulah baru kemudian mengaktualisasikan pengetahuan itu  dalam bentuk prilaku kebajikan dalam hidup yang disebut Dharma Stiti (Dharma Kahuripan). Pesan yang lainnya juga menyatukan antara Dharma dan Stiti, karena Dharma tanpa Stiti tidak berarti apa-apa ?, demikian pula Stiti tanpa Dharma maka kehidupan akan diselimuti kegelapan, kengerian pun kehancuran. Sadarlah wahai engkau kesadaran…, begitu para guru mengetuk sang jiwa saat bermain dihamparan samsara-nya.

Wejangan Bagavan Shri Krishna kala itu kepada Arjuna, bahwa keluh kesah dan keraguan dalam diri itu, akan terus menyelimuti sang diri, bilamana hakekat pengetahuan tentang karma yoga tidak dipahami secara baik dan benar. Selanjutnya, Shri Krihna dalam wejangannya menyampaikan kepada Arjuna bahwa keluh kesah dan keraguan terhadap sikap pun tindak kegiatan, akan sirna bilamana hakekat dari pengetahuan tentang karma yoga itu dipahami dan dilakukan untuk sebuah ikhtiar tercapainya pembebasan, kemuliaan jiwa, pun penyatuan dari dan bersama Tuhan.

Om Subhmastu. Om Shanti, Shanti, Shanti Om.
Update; 26 Juni 2017
Me-replay Keluh Kesah agar lebih percaya diri.

Pranam-Mendrajyothi

Senin, 26 Juni 2017

ENAM LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEDAMAIAN MENURUT KITAB ATHARVA VEDA

ENAM LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEDAMAIAN
MENURUT KITAB ATHARVA VEDA


Oleh : I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H


Untuk mengawali apa yang diwacanakan pada kesempatan ini, sebelumnya terimalah salam Panganjali Umat; “Om Swastyastu” dan Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.


I. PENDAHULUAN
Pada kesempatan ini kami akan membawakan materi dengan Tema “ Enam Langkah untuk menciptakan Kedamaian (Kerta Langu) di Bumi ”. Tema ini kami wacanakan dan haturkan kepada para pembaca umumnya dan khususnya umat sedharma untuk turut ikut serta dalam upaya memberikan sumbangan pemikiran Hindu tentang bagaimana menata hidup dan kehidupan ini agar tercipta kedamaian, demokrasi dan gender dalam kehidupan ini. Kedamaian atau Ketentraman (Kerta Langu), . adalah Dambaan seluruh sekalian alam baik secara kommunal maupun secara individual (personal). Maksudnya adalah Dambaan akan kedamaian itu tidak hanya bagi umat manusia, tetapi tumbuh-tumbuhan dan binatangpun memerlukan kedamaian itu. Kemudian perlu dipahami juga bahwa kedamaian itu bukan dibutuhan saat ini saja, tetapi kedamaian itu dibutuhkan oleh seluruh sekalian alam baik untuk masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Demikianlah Sabda, intruksi dan pesan dari Kitab Suci Veda yang harus kita ditindaklanjuti. Sehingga apabila dalam kehidupan ini setiap umat manusia umumnya dan khususnya umat Hindu mampu mewujudkan kedamaian itu maka ini sejalan dengan impian umat manusia yaitu untuk menciptakan Sorga di Dunia dapat kita wujudkan. Tetapi ternyata masih banyak umat yang keliru memaknai hidupnya khususnya tentang suasana alam sorgawi yang mereka dambakan disaat alam kematian, Mereka berharap masuk sorga atau menikmati suasana alam sorgawi disaat kematian tetapi melupakan suasana sorgawi dalam kehidupannya saat didunia pana ini. Pada hal proses kematian yang baik adalah  “Hidup yang baik dulu, baru mati yang baik”. Yakin tidak? Pemahaman ini ilmiah, Contoh; Anggaplah setiap orang kita andaikan seperti Playsdisk, kemudian masukan Playsdisk itu dalam sebuah  computer ternyata dalam computer itu ternyata data/file dalam playsdisk itu terkontaminasi oleh sebuah Virus. Dan selanjutnya masukan playsdisk itu ketempat computer yang lain maka data/file yang terkena virus akan terbawa oleh memory yang dibawa dari computer sebelumnya. Demikian pula halnya manusia Pengalaman kehidupan yang dilakukan dan dirasakan  dalam hidupnya didunia pana ini akan terbawa oleh memory manusia itu disaat Ia di Alam kematian nanti. Maka jelasnya kalau kita ingin Sorga atau Moksa di Alam kematian maka Kata Kuncinya kita harus bahagia (Hita) dulu di dunia ini. Coba Renungkan Tujuan Umat Manusia menurut ajaran Agama Hindu adalah “Moksartam Jagadhita” artinya Hendaknya Hita didunia (Jagadhita) dan Hita di akhirat disebut (Moksa).
Pemikiran Hindu tentang kedamaian tersirat dan tersurat dalam Kitab Suci Veda, beberapa diantaranya sebagai berikut;
“Mitrasya ma caksusa sarwani Bhutani samiksantam,
Mitrasyaham caksusa sarwani Bhutani samikse,
Mitrasya caksusa samiksamahe” (Yayur Veda, XVI.18).

Artinya :
“Semoga mahkluk memandang kami dengan pandangan seorang sahabat, Semoga saya memandang semua mahkluk sebagai sahabat, Semoga kami saling berpandangan penuh persahabatan”.

“Om Dyauh santir antariksam santih,
Prthivi santir apah santih,
Osadhayah santih Vanaspatayah santir,
Visve devah santir brahma santih,
Sarvam santih santir eva santih,
Sa ma santir Widhi” (Yayur Veda, XXXVI.17).

Artinya :
Semoga ada kedamaian di Langit, damai di Angkasa, damai di Bumi, damai di Air, damai pada Tumbuh-tumbuhan, damai pada Pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah Alam Semesta, Semoga kedamaian senantiasa datang kepada kami”.

“Santam bhutam ca bhavyam ca
Sarvam eva sam astu nah “(Atharva Veda XIX.9.2).

Artinya :
“Semoga masa lalu, masa kini dan masa datang penuh kedamaian dan amat ramah kepada kami”.

“Om Asato masat gamaya,
Tamaso ma jyotir gamaya,
Mrtyor ma amrtam gamaya” (Brhad Aranyaka Upanisad, I.3.28).

Artinya :
“Ya Tuhan Bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati, Bimbinglah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, Bimbinglah kami dari kematian Rohani menuju kehidupan yang kekal abadi”.

Dari beberapa petikan mantra/sloka Suci (ayat suci) Veda di atas,  memberikan sebuah perintah (intruksi) dan pesan kepada kita semua bahwa dalam hidup dan kehidupan ini kita harus tumbuhkan jiwa kemitraan/persahabatan untuk menciptakan kedamain di Alam Semesta ini termasuk di Bumi, sehingga terbentuk sebuah pondasi kedamaian yang kuat baik masa lalu, masa kini dan masa datang. Apabila kedamaian sudah ditanamkan dan ditumbuhkan di Alam Semesta/Bumi maka akan bermuara seperti apa yang di idamkan oleh sekalian Alam, yaitu munculnya cahaya-cahaya ke-Ilahian dalam diri manusia (divine Man), Cahaya-cahaya ke-Ilahian dalam kehidupan sosial masyarakat (divine Sociati), dan cahaya ke-Ilahian dalam lingkungan Alam (divine Ekosistem), yang berujung pada pencapaian kebahagiaan (kedamaian, keharmonisan, penyatuan, pemuliaan ) abadi.

Tetapi fenomena dewasa ini, ternyata kedamaian semakin menjadi harga mahal bagi kita semua, padahal dalam sebuah pengakuan kita mengakui dan diakui sebagai orang yang beragama, dengan status orang beragama itu mestinya orang-orang beragama secara kontinyu selalu untuk berupaya mewujudkan suasana kedamaian (santih) di Bumi ini, Orang-orang beragama mampu memberikan penyembuhan (konseling) terhadap dirinya dan orang lain disaat-saat mengalami goncangan kejiwaan akibat dari suatu masalah, dimana orang-orang psikologi menyebutnya dengan ‘kekusutan mental’ .

Dengan cara apa ?, tentunya dengan menggunakan ayat-ayat kitab suci dan sastra-sastra agama kita sebagai pedoman dan tablet/kapsul yang harus diramu dan selanjutnya dikonsumsi sebagai obat untuk men-konseling atau terapi psikis terhadap dirinya. Tetapi kenyataannya tidak sedikit orang-orang beragama; Jiwanya tidak harmonis, Menciptakan suasana disharmoni, Jiwanya mengalami kekusutan mental, dan paling ironis sikap dan tindakannya justru tidak mencerminkan orang-orang beragama.

Pernyataan di atas, diperkuat dengan fenomena yang sering terjadi disekitar kehidupan kita, misalnya ; terjadinya pertikaian antara kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat yang lain, baik karena perbedaan ras, suku, agama, golongan, profesi, dll. Terjadinya pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga antara suami dengan istri, antara orang tua dengan anak. Banyak orang yang stress dan kemudian struk akibat yang awalnya kaya kemudian jatuh miskin, tidak siap dengan kemiskinannya. Banyak terjadi kasus bunuh diri (ulah pati) akibat beban hidup dan hal-hal yang sepele.

Dengan semakin menjamurnya fenomena seperti itu, saya sempat berpikir apakah ini mungkin  karena manusia memang bukan mahluk harmonis, bukan mahluk teratur dan tertib sehingga aksi reaksinya membawa dampak  menjadi mahluk yang susah diatur, susah teratur dan susah tertib. Tetapi hal  seperti ini jangan dibiarkan sampai pada titik klimaks yang menggiring dunia ini terjerumus pada kegelapan (timira), karena apabila lampu dirumah mati dan dibarengi lagi dengan lampu rohani/jiwa (spiritual) kita mati dunia akan semakin gelap (timira), maka ini adalah bibit dari kehancuran.


Merujuk pada sekelumit fenomena yang kami sebutkan tadi, untuk membentengi diri baik secara indhividu maupun komunal dalam kehidupan beragama dan bernegara agar tidak terjerumus kepada suasana kegelapan, marilah kuatkan keyakinan (sraddha) kita kembali untuk lebih meyakini dan menggunakan ayat-ayat kitab suci / sastra-sastra agama dan Aktivitas keagaaman seperti Hari-hari Suci sebagai pedoman untuk menata hidup dan kehidupan ini yang bermuara pada hakekat sesungguhnya; bahwa umat manusia butuh keharmonisan,  keteraturan, ketertiban dan kedamaian. Dimana Ajaran Agama Hindu mengkemasnya/meng-instan-kan dengan sebuah tujuan hidup atau Visi / Misi Hidup Yaitu : “Mosartam Jagadhita” kebahagian di Dunia dan Kebahagiaan di Alam Sunya (akhirat).



II. ISI

Untuk mewujudkan tujuan hidup itu, maka umat manusia harus memiliki impian tentang Kedamaian, impian ini penting dimiliki sebagai sarana untuk menambah spirit dan memotivasi diri untuk mewujudkannya. Tetapi bukan hanya sekedar impian seperti yang dimiliki oleh Republik Impian yang tayang dalam sebuah stasiun TV belakangan ini. Melainkan sebuah Impian yang akan mengantarkan umat manusia kependakian spiritual untuk menumbuhkan karakter ke-Ilahian (kedewataan/Daiwi sampad) sebagai bekal rohani untuk menuju kebahagiaan (kedamaian) abadi. Pesan yang sama akan pentingnya impian ini juga terdapat dalam Kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:

“Mucap ta ya tumut ri sabda yam anon mamoring mata”,
Pada waktu berkata beliau ada dalam perkataan, pada waktu melihat beliau ada dalam penglihatan,

“Ngungasta ya lulu tri gandha mamangan tumut mangrasa”,
Pada Waktu mencium/kepekaan beliau ada dalam kepekaan, pada waktu makan beliau ada dalam makanan,

“Mangidepa tumut ri citta matutur sama tankari”,
Pada Waktu berpikir beliau ada dalam pikiran, pada waktu berwacana beliau ada dalam wacana,

“Manusuksma siluman ri ngambeka sarira pancendriya”.
Hendaknya beliau menjadi intisari dalam tubuh yang selanjutnya di jawantahkan melaui segenap indriya.

Berdasarkan Kekawin Arjuna Wiwaha tadi, maka mari kita selalu mewartakan kedamaian itu dalam kata-kata, penglihatan/pandangan, kepekaan, makanan, pikiran, pewacanaan, hati/jiwa, dan selanjutkan amalkan melalui panca indriya.

Salah satu ajaran Sraddha menurut Atharva Veda, XII.1.1 menyatakan agar umat manusia melakukan enam macam perbuatan secara sinergi dalam hidupnya di bumi ini untuk menciptakan keharmonisan, kelestarian dan kedamaian di Bumi. Adapun lebih jelasnya  sebagai berikut:

“Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo, brahma, yajna prthivim dharayanti”.

Terjemahannya.
“Sesungguhnya Kebenaran/Kejujuran/Kebajikan(satya), hukum (rta), inisiasi / penyucian (diksa), pengendalian indria (tapa), pujian / Gita / doa (brahma), pengorbanan (yajna) adalah yang menyangga Bumi” (Atharva Veda, XII.1.1).

Berdasarkan Mantra Atharva Veda tersebut dinyatakan bahwa ibu pertiwi atau Bumi akan seimbang (harmonis/damai) apabila disangga oleh Enam prilaku Suci. Enam prilaku suci sebagai Enam Langkah untuk Menciptakan Kedamaian /keharmonisan yang dimaksud adalah Satyam, Rtam, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yajña.

Pengenjawantahan keyakinan (sraddha) oleh umat manusia atas pengetahuan suci yang dimiliki berdasarkan kitab suci itu, ini harus ditindak lanjuti dengan sebuah pemaknaan, kemudian seterusnya sampai pada sebuah action yaitu pelaksanaan aktivitas-aktivitas keagamaan, dan yang tidak kalah penting dari itu semua, umat manusia harus melaksanakan intruksi ataupun pesan apa yang hendak di sampaikan, yang mesti harus ditindak lanjuti pada pra-pelaksanaan, pada saat dan  setelah pelaksanaan aktiviatas keagamaan itu berlangsung.

Masih merujuk kepada Mantra Atharva Veda tersebut, bila dikaitkan dengan kehidupan kita di Bumi ataupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hendaknya merujuk kepada Enam Langkah sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Atharva Veda tersebut, tetapi hendaknya selain dijadikan dasar keyakinan, maka pemaknaan, intruksi dan pesan yang hendak disampaikan ini harus dipahami oleh segenap umat manusia, sehingga Enam Langkah ini benar-benar dapat menciptakan Kedamaian /keharmonisan di Bumi, atau dapat mewujudkan pengamalan ajaran agama secara mantap. Mantap yang dimaksud adalah Terakomodasinya Tiga Kerangka Dasar dalam aspek pendidikan yaitu Kognitif (Pengetahuan), Afektif (Sikap) dan Psikomotor (Prilaku) yang mana ketiga aspek ini sejalan dengan Kerangka Dasar ajaran agama Hindu Yaitu Tattwa, Susila dan Upacara atau setidaknya bahwa makna kesucian, ketulusan, kebersamaan, Penyatuan/kesatuan, kebersamaan, kemuliaan, ketentraman, keseimbangan dan yang lainnya tetap dipahami dengan baik.

Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita gunakan kitab suci Atharva Veda XII.I.I  sebagai dasar pandangan dan pedoman untuk menata hidup dan kehidupan kita, sebagai upaya untuk menciptakan Kedamaian / keharmonisan di Bumi. Untuk lebih jelasnya mari kita cermati dengan dasar pandangan dan pedoman yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

1.  Satyam = Perilaku kebenaran, Kebajikan, kejujuran, keadilan, tidak berbuat diskriminatif pada sesama,      dan pengetahuan tentang kesucian dan kebenaran.
2.  Rtam = Hukum alam dan hukum duniawi, prilaku untuk tidak merusak system hukum. Menata hidup dan kehidupan ini dengan prilaku yang tidak bertentangan dengan hukum alam (hukumnya Tuhan) dan hukum duniawi (hukum yang di buat manusia (berdasarkan musyawarah mufakat) agar prilaku manusia tidak menyimpang dan merusak system hukum sehingga kedamaian abadi dapat terwujud.
3.  Diksa = Kesucian, penyucian (inisiasi), berprilaku kesucian. Agar nilai kesucian ini dapat diwujudkan dan berlangsung dan dipertahankan  secara berkesinambungan maka salah satu sastra suci yang dapat di pedomani adalah seperti ucap sastra suci dalam Lontar Silakrama, 41 adalah sebagai berikut :

“Sudhdha ngaranya enjing-enjing madyusa suddha sarira, masurya sevana, mamuja, majapa, mahoma”.
Terjemahannya.
“Sucilah namanya, tiap hari menyucikan diri, mandi, sembahhyang kepada Tuhan, melakukan pemujaan, berjapa dan melaksanakan upacara yajna/homa yajna/agni hotra”.

4.  Tapa = Pengekangan diri, pengendalian indria atau berprilaku      dengan menahan diri dari hawa nafsu yang berlebihan. Dalam hidup dan kehidupan ini dibutuhkan sebuah pengendalian diri, agar tidak terjerumus kelembah penderitaan atau agar tidak memunculkan sebuah konflik baru yang menyebabkan nilai kesucian, kebersamaan, penyatuan, keharmonisan dan pemuliaan menjadi semakin jauh. Sehingga dalam hal ini pengendalian diri sangat penting, sehingga konsep mensorgakan (kedamaian abadi) dunia ini dapat diwujudkan. Agar dapat melakukan pengendalian diri dengan baik, mari kita berpedoman kepada sastra suci, seperti yang dinyatakan dalam Lontar Jnana Tattwa, 102-103 adalah sebagai berikut:

“Nihan kang prayogasandhi, kengetakena, prayogasandhi ngaranya, upaya lwirnya, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, Samadhi, maka pusa pusika kabeh, sandhi ngaranya”.

Terjemahannya.
“Inilah prayogasandhi, hendaknya diingat, prayogasandhi artinya Usaha, yaitu Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan Samadhi, ikatan semua itu disebut sandhi”.

Sastra ini memberikan petunjuk untuk selalu melakukan Tapa dengan metode-metode/langkah seperti yang tersebut dalam Jnana Tattwa itu.

5.  Brahma = Berdoa, melantunkan kidung-kidung suci / Gita, prilaku yang selalu melantunkan doa / gita untuk      memberikan vibrasi kesucian pada diri sendiri, orang lain dan seluruh      sekalian alam. Prilaku untuk selalu melantunkan Brahma / Doa / Gita / Kirtanam / Zikir Suci penting untuk dilakukan sehingga dengan Brahma ini semakin mempertahankan nilai-nilai Satyam (kebenaran), Sivam (kesucian) dan Sundaram (keharmonisan dan estetika). Misalnya, melantunkan Kirtanam , Ma- Dharma Gita / Zikir.

6.  Yajña = Pengorbanan, prilaku      atau perbuatan nyata untuk ikhlas berkorban demi tegaknya kebenaran dan      kesucian. Hakekat dari prilaku yajna itu harus tetap yang menjadi dasar dan tujuan dari hidup dan kehidupan ini, seperti ucap sastra suci Agastya Parwa ada ditegaskan yajna adalah sesuatu prilaku untuk mencapai sorga/kedamaian dapat di wujudkan. sebagai berikut:

“Kalinganya: tiga ikan karyamuhara swarga ; tapa, yajna, kirtti….”.

Terjemahannya.
Ada tiga macam prilaku yang menyebabkan Kedamaian / Sorga, yaitu Tapa (pengendalian diri), Yajna (Pengorbanan Suci,Iklas berkarma / kerja), Kerti (kebajikan)…”.

Kutipan sastra tersebut secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tentang tiga macam perbuatan (karma) yang menyebabkan seseorang dapat menciptakan sorga di dunia, baik dalam dirinya, orang lain maupun sekalian alam. Yang mana salah satu prilaku (karma) itu adalah dengan melaksanakan Yajna. Selanjutnya yang tidak kalah penting Silakramaning dari yajna itu (etika dalam beryajna) harus diperhatikan agar yajna itu termasuk yajna yang Sattvika (yajna yang paling baik). Menurut Kitab Suci Bhagavadgita, XVII.11 terurat dan tersirat sebagai berikut :

“Aphalakanksibhir yajno,
Vidhi-drsto ya ijyate,
Yastavyam eveti manah,
Samadhaya sa sattvikah”.

Artinya :
Yajna sesuai dengan petunjuk kitab-kitab suci, dilakukan dengan penuh keikhlasan, dengan keyakinan yang kuat, dilakukan yajna dengan dasar tugas dan kewajiban, ini adalah yajna yang sattvika”.

Kemudian menurut sastra suci Ketattwaning Tapini dan Rare Angon, ada beberapa hal yang harus di kendalikan (etika beryajna) dalam beryajna sbb:

“ Yan hana wong kumingkin karya hayu: (kalau ada umat manusia yang ingin melakukan/berbuat kebajikan )
·         Awya  sira pwang anglem druwya (tidak boleh tidak ikhlas).
·         Aywa Wak purusa (tidak boleh berkata kotor yang menjauhkan dari kesucian).
·         Aywa ujar apergas (tidak boleh berkata kasar yang menyebabkan disharmoni).
·         Aywa Ujar gangsul (tidak boleh berkata keras yang menyebabkan pertikaian).
·         Ujar menak pwa sira warahan (berkatalah yang baik mesti diucapkan)”.

Demikianlah bahwa apabila kita laksanakan dengan pemahaman yang baik kemudian dibarengi dengan upaya untuk mewujudkan nilai-nilai yang dikandungnya, maka prilaku-prilaku tersebut  akan menciptakan kedamaian di Bumi, dimana Hindu menyebutnya sebagai suasana yang penuh dengan Kerta Langu (tentram, indah) atau Satwam, Siwam, Sundaram. Mengapa suasana Kedamaian (Santih / Kerta Langu) ini perlu diciptakan?, Agar Pancasila Undang –Undang Dasar empat lima jaya. Dengan Jalan Apa ?..Bangkitlah semangat bekerja untuk mengabdi pada nusa dan bangsa, melalui pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara. Mengapa suasana Kedamaian (Santih / Kerta Langu) ini perlu diciptakan?, Agar Keyakinan (Sradha) jadi kuat, agar bhakti (cinta kasih, pelayanan, sujud ) tumbuh dalam hati/jiwa kita (Padma Hredaya). Dengan jalan Apa ?, Bulatkanlah persatuan dan kesatuan dalam perjuangan, untuk menegakan kejujuran, tidak diskriminasi (Satyam). Kesucian, berprilaku kesucian (Sivam). Keharmonisan, kedamaian, keindahan (Sundaram). Melalui Pelaksanaan Enam Kebajikan (Sad Dharma), yaitu :

1)     Mewacanakan Kebajikan, kebenaran, cinta kasih dan kedamaian (Dharma Wacana),
2)     Melantunkan Kebajikan dan kedamaian (Dharma Gita),
3)     Berdiskusi atau berdemokrasi tentang kebajikan dan kedamaian  (Dharma Tula),
4)     Melaksanakan Kebajikan dan kedamaian (Dharma Sadana),
5)     Melakukan Perjalanan Kebajikan dan kedamaian (Dharma Yatra),
6)     Selalu mengupayakan Perdamaian /keharmonisan (Dharma Santih).


Untuk itu dalam kehidupan ini hendaknya selalu Bhakti ( hormat, sujud, mencintai, mengasihi, ikhlas) terhadap Kedamaian/keharmonisan itu, agar  nilai Kesucian, Ketulusan, kebersamaan, Penyatuan, dan Pemuliaan dapat di pertahankan. Karena dalam Kitab Suci Bhagavadgita dinyatakan walaupun sedikit dari dharma (prilaku kejujuran/kebajikan) yang kita lakukan akan membebaskan dari cengkraman ngeri / kesengsaraan. Seperti berikut ini:
“Neha Bhikramanaso sti,
Pratyavayo na vidyate,
Svalpam apy asya dharmasya,
Trayate mahato bhayat”.

Terjemahannya.
“Dalam hal ini tidak ada usaha sia-sia, dan juga tak ada rintangan yang tak teratasi, Walau sedikit dari Kebajikan (dharma) ini akan membebaskan dari cenkraman ngeri/kesengsaraan”(Bhagavadgita,II.40).


III.  PENUTUP

Merujuk pada sekelumit uraian di atas, maka untuk membentengi diri baik secara indhividu maupun komunal dalam kehidupan beragama dan bernegara agar tidak terjerumus kepada suasana kegelapan, dibutuhkan keyakinan (sraddha) dan bhakti yang kuat dalam membumikan ataupun mengimplementasikan prinsip prinsip dasar  Tattwa, Susila, Acara yang terkandung di dalam kitab suci / sastra-sastra suci agama Hindu yang lainnya dalam aktivitas keagaaman sehari-hari, seperti pesan pesan nilai yang harus ditindaklanjuti dalam perayaan Hari-Hari Suci Kegamaan Hindu sebagai pedoman untuk menata hidup dan kehidupan ini, yang pada akhirnya akan bermuara pada hakekat sesungguhnya yaitu, bahwa umat manusia butuh keharmonisan,  keteraturan, ketertiban dan kedamaian. Didalam Ajaran Agama Hindu hal-hal yang dimaksud dikemasnya dengan sebuah tujuan hidup atau visi / misi hidup Yaitu : “Mosartam Jagadhita” kebahagian di Dunia dan Kebahagiaan di Alam Sunya (akhirat).


“Om Santih, Santih, Santih Om”.
Update, 26 Juni 2017   
Pranam-Mendrajyothi.


KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU (Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)

KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU
(Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)



Oleh: I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H


I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kalau mencermati kehidupan  manusia memang unik adanya, keunikan ini karena menurut para ahli budaya manusia memiliki beraneka macam status seperti; Statusnya sebagai makhluk Religi, Indhividu, Sosial, Ekonomi, Hukum, Budaya (Cipta, Rasa dan Karsa),  Keindahan/harmonis, Butuh Pengakuan, Pekerja, Penilai, Pembelajar, Teratur / tertib, Tidak Teratur/tidak tertib, dll. Sehingga dari beberapa status itu manusia secara otomatis memiliki kebutuhan yang beraneka ragam  sesuai dengan kadar dari status-status yang ada dalam dirinya. Contoh: Kalau yang lebih banyak mempengaruhi kadar status / kebutuhan akan religi, maka prilaku orang itu kecenderungannya akan selalu menunjukkan aktivitas religi / ritual  dalam keseharinnya. Kalau yang mempengaruhi kebutuhan akan Indhividu dan Sosial, maka kadang kala manusia ingin hidup sendirian kadang pula ingin berkelompok, berkumpul satu sama lainnya agar dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Dan yang paling parah apabila kebutuhan akan ketidak teraturan/ketidak tertiban yang mempengaruhi dirinya maka aksi-reaksinya membawa dampak  menjadi mahluk yang susah diatur, susah teratur dan susah tertib. Khusus kebutuhan akan ketidak teraturan ini jangan dibiarkan sampai pada titik klimaks yang menggiring manusia terhadap perusakan sistem hukum apalagi sampai terjerumus pada kegelapan (timira).

Apabila fenomena yang terjadi di zama Kali ini bahwa kecenderungan manusia aksi-reaksinya lebih menonjolkan sebagai mahluk yang susah diatur, susah teratur dan susah tertib, lagi pula dewasa ini tidak dapat dipungkiri juga adanya kemunduran dalam hal budaya rokhani. Hal ini dibuktikan dengan telah bergesernya pencapaian tujuan hidup yaitu yang awalnya dari mencari Kesenangan menuju Ketenangan, tetapi sekarang telah bergeser dari Ketenangan menuju Kesenangan. Maka bila hal ini yang dihadapi oleh seorang pemimpin dimasa kini dan masa yang akan datang maka kata kuncinya adalah Pemimpin itu harus sabar, Mengapa harus sabar ?. Karena orang sabar pasti subur, orang subur suka bersyukur, orang yang suka bersyukur tidak takabur, orang yang tidak takabur jauh dari kubur.

Walaupun terjadi keanekaragaman, dan keunikan kehidupan manusia itu, sejarah telah membuktikan bahwa Agama Hindu tidak saja agama yang tertua keberadaannya di dunia ini, melainkan juga sebagai agama yang mampu menjiwai seluruh aspek-aspek kehidupan manusia dan melahirkan pemimpin dan kepemimpinan Hindu yang dapat menata hidup dan kehidupan manusia  di dunia ini yang aman, damai, sejahtera (kerta langu) di masa yang lalu. Seperti tokoh-tokoh Kepemimpinan di zaman Ramayana (Kepemimpinan Sang Dasarata, dan Sang Wibhisana). di zaman Mahabrata (Kepemimpinan Yudistira / Dharmawangsa), di Kerajaan Magada (Kepemimpinan Maha Rsi Kautilya / Chanakya di belahan dunia India bahkan sampai ke Asia), di Kerajaan Majapahit (Kepemimpinan Hayam Huruk dan Maha Patih Gajah Mada dengan sumpah amukti palapa-nya yang sempat digjaya menyatukan Nusantara dalam kurun waktu yang lama di zamannya).

Berdasarkan uraian di atas, bila kita berbicara tentang Kepemimpinan Hindu maka kenapa kita tidak berguru dengan masa lalu dan berguru kepada sastra-sastra Hindu yang kita  miliki, kita sucikan dan yang kita yakini.  Terutama untuk menata hidup dan kehidupan kita sebagai orang-orang yang beragama Hindu dan disaat-saat menyelenggarakan aktivitas-aktivitas keagamaan Hindu khususnya, dan secara umum dapat menyumbangkan pemikiran-pemikiran kepemimpinan Hindu tentang bagaimana manata hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara di negara RI yang kita cintai ini dan bahkan bila perlu di dunia.

Mengapa dalam kehidupan beragama Hindu diperlukan  pemahaman tentang ajaran kepemimpinan Hindu ? Untuk lebih jelasnya mari sama-sama merenungi uraian berikut ini:

Kata kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata pimpin lahirlah kata kerja “memimpin” yang artinya membimbing atau menuntun, dan kata benda “pemimpin” yaitu orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Sedangkan menurut beberapa para ahli, Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas/tindakan untuk mempengaruhi, menggerakkan, serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai sasaran atau tujuan. Kepemimpinan memiliki berbagai macam istilah, seperti: Leadership dari kata asing, Management dari kata ilmu administrasi, dan Nitisastra dari kata Hindu.

Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata Niti dan Sastra. Niti berarti kemudi, pemimpin, politik dan sosial etik, pertimbangan, dan kebijakan. Sedangkan Sastra berarti perintah, ajaran, nasehat, aturan, teori, dan tulisan ilmiah. Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia sebagai hamba Tuhan terhadap hukum Tuhan (Rtam), sumber kepatuhan manusia sebagai warga negara pada hukum  dan kebijaksanaan pemerintah dari lembaga keumatan dan negara yang bersangkutan, atau dengan kata lain Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia terhadap Tuhan, Sesamanya, dan lingkungannya, serta Dharma negaranya.

Pemimpim dan Kepemimpinan ibarat mata uang. Dapat berfungsi bila keduanya sisinya utuh dan saling mengisi. Bila salah satu tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, semua itu memerlukan perjuangan, pengorbanan, pembelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinannya. Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakan bawahannya. Fungsi menggerakan dalam hal ini adalah fungsi pembimbingan dan pemberian pemimpin serta menggerakan orang-orang atau kelompok orang-orang itu agar suka dan mau bekerja.

Fungsi pemimpin adalah sangat penting. Karena bagaimanapun rapinya perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin serta tertibnya pengorganisasian ataupun tepatnya penempatan orang, hal ini belum menjamin dapat bergeraknya oraganisasi ke arah sasaran atau tujuan. Fenomena yang terjadi di sekitar kita khususnya tentang hidup, kehidupan, dan aktivitas agama dan keberagamaan Hindu yang dijalani, dihadapi, dan diselenggarakan baik secara indhividual (Personal) maupun secara bersama / berkelompok (komunal) tidak jarang terjadi sebuah konflik internal (Indhividu) dan konflik eksternal / sosial (sesama). Hal ini terjadi karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhi. Fenomena konflik ini tentunya harus segara diatasi salah satunya dengan sebuah pemahaman ajaran kepemimpinan Hindu untuk menata hidup, kehidupan dan aktivitas agama serta keberagmaan Hindu yang kita jalani dan yang kita laksanakan, tentunya dengan spirit kepemimpinan Hindu yang telah diwariskan oleh para leluhur kita yang selalu berguru kepada Kitab Suci Veda (Sruti-Smerti) dan  susastra-susastra suci Veda yang lainnya.

Berbicara tentang Kepemimpinan Hindu sangat luas dan universal sekali seperti di antaranya: Kepemimpinan/Nitisastra; Asta Brata, Ramayana, Mahabrata, Panca Sthiti Dharmaning Prabu, Asta Dasa Paramiteng Prabu, Catur Kotamaning Nrpati, Catur Naya Sandhi, Kepemimpinan Jawa Kuno, Nawa Natya, Sad Upaya Guna, Panca Upaya Sandhi, Tri Upaya Sandhi, dll. Oleh karena itu untuk membatasi bahasan tentang Kepemimpinan Hindu dalam tulisannya ini khusus membahas “Konsep Kepemimpinan Hindu (Perspektif Fungsi Sang Sadaka, Sang Widya, dan Sang Yajamana)”. Hal ini menjadi perhatian khusus karena, Pertama; Peranan, Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) dari ketiga komponen dalam pelaksanaan yadnya yang diistilahkan dengan Tri Manggalaning yadnya (Sang Yajamana, Sang Widya, Sang Sadaka) sangat menentukan suksesnya aktivitas keagamaan / yadnya yang dilaksanakan baik dalam beragama Indhividu (personal) lebih-lebih dalam beragama kebersamaan (komunal). Kedua; Terjadinya konflik-konflik disaat terlaksananya aktivitas-aktivitas keagamaan dalam kontek beragama kebersamaan (Komunal) salah satunya adalah karena kurangnya integrasi, bersinergi, kesungguhan, ketulusan dan kurangnya pemahaman secara menyeluruh (komprehensip) dari komponen Tri Manggalaning Yadnya, yaitu Sang Yajamana (Pelaku Yadnya), Sang Widya (Orang yang memiliki pengetahuan dan memiliki kewenangan untuk mengatur dan manajemen yadnya) dan Sang Sadaka (Orang yang memimpin/menyelesaikan yadnya).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, timbul ketertarikan untuk membahas dan menjadikan bahan renungan tentang Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya dan Sang Sadaka dalam  Kehidupan umat Hindu maupun sistem Lembaga agama dan keberagmaan Hindu.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahannya  yang dapat  dirumuskan dan akan dipecahkan dalam tulisan ini sebagai berikut:

Ø Bagaimanakah Konsep Kepemimpinan Hindu Persfektif ; Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya dan Sang Sadaka ?



II. PEMBAHASAN
  
Berdasarkan uraian pendahuluan dan rumusan masalah di atas, berikut ini akan dideskripsikan secara singkat tentang hal-hal yang menjadi rumusan masalah tersebut yaitu:

Menurut Kamus Bahasa Indonesia secara garis besar “Konsep” adalah rancangan, ide atau pengertian, dan proses. Sedangkan “Perspektif” adalah sudut pandang atau pandangan. Kepemimpinan dalam Hindu disebut dengan istilah Nitisastra. Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata Niti dan Sastra. Niti berarti kemudi, pemimpin, politik dan sosial etik, pertimbangan, dan kebijakan. Sedangkan Sastra berarti perintah, ajaran, nasehat, aturan, teori, dan tulisan ilmiah. Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia sebagai hamba Tuhan terhadap hukum Tuhan (Rtam), sumber kepatuhan manusia sebagai warga negara pada hukum  dan kebijaksanaan pemerintah dari lembaga keumatan dan negara yang bersangkutan. Atau dengan kata lain Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia terhadap Tuhan, Sesamanya, dan lingkungannya, serta Dharma negaranya. Nitisastra ini secara sederhana dapat dikatakan bahwa, Nitisastra bukan hanya diperlukan tetapi juga dapat dipergunakan oleh pemimpin suatu Negara, oleh pemerintah atau pengambil kebijakan dalam kelembagaan umat Hindu serta dapat juga diamalkan oleh semua umat manusia pada umumnya dan khususnya oleh umat Hindu sesuai dengan Varna Dharma-nya. Nitisastra dapat juga dipergunakan untuk membuat rumusan kembali, mengakulturasikan suatu konsep dengan konsep yang lain sehingga memperoleh suatu konsepsi baru (pemikiran beragama, berorganisasi dan bernegara yang bersifat pembaharuan, dinamis, relevan dan mengikuti perkembangan zaman atau kekinian/anutana) dan mengantarkan untuk berpandangan jauh kedepan. Nitisastra ini sangat dibutuhkan dan dapat dijadikan pedoman oleh umat Hindu, pemimpin / pemerintah/pengambil kebijakan dalam kelembagaan umat Hindu serta untuk menata hidup dan kehidupan umat beragama Hindu dalam kewajibannya (swadharma) terhadap kepatuhan dengan Dharma Agama-nya.

Selain ajaran Kepemimpinan / Nitisastra maka perlu adanya seseorang pemimpin yang dapat mengaktualisasikan ajaran Nitisastra ini. Karena Pemimpim dan Kepemimpinan ibarat mata uang. Dapat berfungsi bila keduanya sisinya utuh dan saling mengisi. Bila salah satu tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, semua itu memerlukan perjuangan, pengorbanan, pembelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinannya. Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakan bawahannya. Fungsi menggerakan dalam hal ini adalah fungsi pembimbingan dan pemberian pemimpin serta menggerakan orang-orang atau kelompok orang-orang itu agar suka dan mau bekerja. Fungsi pemimpin adalah sangat penting. Karena bagaimanapun rapinya perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin serta tertibnya pengorganisasian ataupun tepatnya penempatan orang, hal ini belum menjamin dapat bergeraknya oraganisasi ke arah sasaran atau tujuan.

Kemudian dalam kehidupan dan aktivitas keagamaan umat Hindu, ada tiga unsur / komponen  utama yang berperanan dalam pelaksanaannya yaitu yang disebut Tri Manggalaning Yadnya, sebagai berikut :

a.  Sang Yajamana, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Bhakti dan Karma.
b.  Sang Pancagra atau Sang Widya, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada  Karma dan Jnana yoga.
c.   Sang Sadhaka, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Jnana dan Raja yoga.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan bahwa “Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka” adalah rancangan, ide atau pengertian, dan proses kepemimpinan Hindu dari sudut pandang fungsi atau Tupoksi dari masing-masing unsur / komponen Tri Manggalaning Yadnya.

Secara umum tentang Pemimpin, Kepemimpinan dan Fungsi Pemimpin telah di uraikan secara singkat. Berdasarkan uraian itu, bila dikaitkan dengan fenomena sebuah aktivitas-aktivitas keagamaan / Yadnya di tengah-tengah kehidupan umat Hindu baik secara Indhividu (persona)l maupun dalam kebersamaan, kelembagaan umat  (komunal) tidak sedikit yang masih belum memahami tentang apa itu pemimpin, kepemimpinan, dan fungsi pemimpin dan kepemimpinan itu, tidak sedikit pula orang sudah memahami tetapi belum atau tidak mau untuk mengaktualisasikannya, bahkan yang paling parah adalah sudah memahami tetapi malah mengabaikan dan justru mencari-cari kesalahan untuk merusak sistem yang telah disepakati. Tentunya untuk yang satu  ini jangan dibiarkan mencapai titik klimaks yang dapat mengahancurkan kebersamaan kita dalam membangun Hindu yang lebih besar dan berkualitas dalam kontek beragama kebersamaan. Oleh karena itu mari kita sebagai umat Hindu terutama bagi orang-orang yang ingin merusak sistem atau tatanan kebersamaan dalam keberagamaan Hindu agar tidak menuju jurang kegelapan (timira) mari kita cerahi jiwa dan pikiran kita dan berguru terhadap ucap sastra suci Veda sebagai berikut:

“Orang bodoh dapat diajari  dengan mudah, orang berpengetahuan paham dengan hanya sedikit diberi petunjuk, sedangkan orang yang memiliki sedikit ilmu pengetahuan merasa dirinya paling pandai, Dewa Brahma sekalipun tidak dapat mengajarinya” (Niti Sataka, 2).

“…Busana Keberanian adalah lidah yang terkendali, Busana Pengetahuan adalah kedamaian, Busana kepandaian adalah kerendahan hati, …, Busana Kebesaran adalah memaafkan,…” (Niti Sataka, 80).

Pemikiran-pemikiran atau Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka, harus didasari oleh dasar keimanan yang berdasarkan kitab suci Veda. Berikut ini beberapa sumber-sumber sastra suci Veda yang  ada yang berhasil di pupul dan disertai beberapa analogi dari penulis.

Beberapa petikan Mantra/Sloka yang dapat dipedomani adalah sebabagai berikut:

 Brhad Aranyaka Upanisad, Mandala I. Sukta 3. Mantra 28
“Om Asato masat gamaya,
Tamaso ma jyotir gamaya,
Mrtyor ma amrtam gamaya”

Terjemahan:
“Ya Tuhan Bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati, Bimbinglah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, Bimbinglah kami dari kematian Rohani menuju kehidupan yang kekal abadi”.

Mantra upanisad ini, merupakan sebuah pengakuan dan pernyataan diri dari umat manusia kehadapan Tuhan, bahwa sebenarnya manusia tidak mampu memimpin, membimbing / menuntun dirinya secara sempurna baik jasmani maupun rohaninya. Bermula dari sebuah kesadaran diri itulah manusia memohon bimbingan / tuntunan kepada Tuhan. Pertama; memohon bimbingan agar mendapat dorongan rohani untuk terus menuju kebenaran yang sejati (Sat) dan menjauhi ketidak benaran (Asat). Kedua; memohon bimbingan dari kegelapan (Tamas) menuju jalan yang terang (Jyoti). Jalan yang terang itu adalah jalan yang menuju kehidupan yang bahagia dengan landasan Widya Dharma (ilmu pengetahuan tentang dharma). Ketiga; memohon bimbingan agar mendapat kekuatan rohani untuk mengubah kematian (kesengsaraan) menuju kehidupan yang kekal abadi. Mantra ini juga memberikan inspirasi bagaimana memimpin diri dan orang lain untuk menjalani dinamika kehidupan dengan berlandaskan kedamaian untuk membuahkan hasil kebahagiaan yaitu Jagadhita dan Moksa.

Canakya Nitisastra, Adhyaya V. Sloka 1:
” Guru Agnir Dvijatinam,
Varnanam Brahmana Guruh,
Patireva Guruh Strinam,
Sarvasya Bhayagato Guruh”.

Terjemahan.
“Dewa Agni adalah Guru bagi para Dwijati (Sang Sadaka), Varna Brahmana adalah Guru bagi Varna Ksatria, Waisya dan Sudra, Guru bagi seorang istri adalah suami, dan seorang tamu adalah Guru bagi semuanya”.

Sloka Canakya Nitisastra ini merupakan sebuah pedoman bagaimana etika berguru, ajaran bhakti, sehingga terjadi sebuah tatanan kehidupan yang  harmonis, etika sosial dengan saling menghargai satu sama yang lain dan oleh Catur Varna bukan justru dijadikan sebagai stratifikasi sosial untuk mempertahankan status Co. Tetapi intisari pesan dari Sloka ini adalah ada pada baris pertama dan terakhir bahwa sesungguhnya semua harus berguru kepada Agni (Tuhan) dan semua harus berguru kepada Tamu. Kata Tamu ini adalah spirit yang ada diluar diri manusia, siapa spirit itu ? yaitu seluruh sekalian alam (Tuhan).

Etika sosial untuk saling menghargai satu sama yang lain, tentang kewajiban-kewajiban agama yang sifatnya wajib dilakukan bagi keempat varna  dharma juga tersurat dan tersirat di dalam Kitab Parasara Dharmasastra adalah sebuah Kitab yang diyakini sebagai kitab Suci Veda Smerti di Zaman Kali (Parasara Dharmasastra, Adhyayah I dan Adhyayah II).

Bhagavadgita, IV.13 dan XVIII.41 :
“Catur varnyam maya shristam,
Guna karma vibhagasah,
Tasya kartaram api mam,
Viddhy akartaram avyayam”.

Terjemahannya.
“Catur Varna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian Bakat dan Kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya Aku, Aku tidak berbuat dan merubah diri-Ku”.

(Bhagavadgita, IV.13)
“Brahmana kshatriyabvisayam,
Sudranam cha paramtapa,
Karmani pravibhaktani,
Svabhawaprabhavair gunaih”.

Terjemahannya.
“Di antara kaum Brahmana, Ksatria, Vaisya, dan Sudra Oh Parantapa, kegiatan  kewajiban dibeda-bedakan menurut guna terlahir dari sifat-sifat mereka”.

Berdasarkan Sloka di atas, Pengertian varna adalah empat tatanan masyarakat yang disesuaikan dengan kewajiban-kewajiban mereka yang spesifik, sesuai dengan Guna (sifat-sifat yang mendominasi) dan Karma (Kegiatan kerja yang cenderung dilakukannya), dan bukan ditentukan oleh asal keturunannya.

Sesuai dengan Konsep Varna Dharma ini, maka jika dikaitkan dengan Tri Manggalaning Yadnya dalam penyelenggaraan yadnya tidak akan mencapai hasil yang diharapkan apabila penggarapannya tidak memperhatikan varna dharma, artinya penyelenggaraan upacara tersebut harus dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dan  Tupoksi yang sesuai pada bidangnya. Digelarnya aktivitas keagamaan  ini dibutuhkan komunikasi dan kerjasama yang kondusif di antara umat  yang bersangkutan dan umat yang lain, karena umat yang menggelar yadnya wajib menyadari diri, keahlian, ketrampilan (guna), dan Tupoksi apa yang dimiliki serta yang dapat dilakukan demi suksesnya aktivitas keagamaan. Pertama; bagi Umat yang duduk dikelompok  Varna Brahmana (Sang Sadaka), memiliki bakat dan Tupoksi di bidang kerohanian, penasehat, dan Fattwa (Bisama). Kedua; kelompok Ksatria Varna (Sang Widya) memiliki bakat (Guna) dan Tupoksi di bidang kepemimpinan, keahlian, pengendalian, pengambil kebijakan, sesuai struktur yang ada. Selanjutnya yang ketiga; Varna Wesya dan Sudra (Sang Yajamana) memiliki bakat (guna) dan Tupoksi di bidang penyediaan logistik yadnya, Seksi-seksi,  tenaga operasional kegiatan, dan pelaku yadnya (Panitia yadnya dan seluruh umat).

Apabila kempat kelompok dari Varna Dharma yang dikemas kedalam Tri Manggalaning Yadnya ini bersinergi maka harapan untuk mencapai sebuah aktivitas keagamaan yang Dharma Sidhiartha akan dapat terwujud.

Atharva Veda, Mandala XII, Sukta 1, Mantra 1 :
“Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo, brahma, yajna prthivim dharayanti”.

Terjemahannya.
“Sesungguhnya kebenaran/Kejujuran/Kebajikan (satya), hukum (rta), inisiasi/penyucian (diksa), pengendalian indria (tapa), Kirthanam/pujian/Gita/doa (brahma), pengorbanan, homa yadnya atau Agni Hotra (yajna) adalah yang menyangga Bumi”.

Mantra Atharva Veda ini adalah dasar keimanan umat Hindu, dasar keimanan inilah yang harus di perbuat oleh umat manusia di dunia untuk menciptakan Jagadhita dalam kontek beragama duniawi, dalam kontek beragama spiritual / rohani umat manusia juga harus melaksanakan dasar keimanan Atharva Veda ini bila manusia ingin keluar dari penderitaan kelahiran kembali (punarbhawa) untuk menuju sebuah pendakian spiritual untuk menyatu dengan Brahman. Mantra ini juga memberikan inspirasi bagaimana memimpin diri dan orang lain untuk menjalani dinamika kehidupan dengan berlandaskan dasar keimanan ini untuk membuahkan hasil kebahagiaan yaitu Jagadhita dan Moksa.

Sastra Suci Agastya Parwa :
“Kalinganya: Tiga ikan karyamuhara swarga: Tapa, yadnya, Kirtti,… Lewih tekan tapa saken yajna, lewih tekan yadnya saken kirtti, ikan tigan siki prawertti kadharma ngaran ika, kunan ikan yoga yeka nirwrtti-kadharma ngaranya”

Terjemahannya.
“Ada tiga macam yang menyebabkan sorga, yaitu Tapa, Yadnya, Kirtti,… adapun keutamaan dari pada tapa atau pengendalian diri munculnya atau tumbuhnya dari yadnya atau persembahan atau pemujaan, sedangkan keutamaan dari pada yadnya atau persembahan/pemujaan munculnya dari kirtti atau kerja / pengabdian, demikianlah ketiganya itu disatukan yang disebut prawertti-kadharma, tetapi mengenai ajaran Yoga itu disebut dengan nirwrtti-kadharma“.

Kutipan Sloka tersebut secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tentang tiga macam perbuatan (karma) yang menyebabkan seseorang dapat menciptakan sorga di dunia, baik dalam dirinya, orang lain maupun seluruh sekalian alam (Bhuana Agung), ketiga perbuatan itu disebut Prawertti Kadharma, yaitu Tapa, Yadnya, Kirtti. Prawertti Kadharma ini gerakannya atau arahnya eksternalisasi, artinya memiliki putaran keluar dengan menempatkan Bhuana Agung sebagai objek kajian, yang dimaksud disini adalah bagaimana seorang pemimpin secara eksternalisasi berusaha menciptakan jagadhita, untuk membangun peradaban manusia lain (divine society), lingkungan sekitar dan seluruh sekalian alam (divine ekosistem). Sedangkan Nirwrtti kadharma gerakannya atau arahnya internalisasi, artinya memiliki putaran kedalam dengan menempatkan Bhuana Alit sebagai objek kajian. Yang dimaksud disini adalah bagaimana seorang pemimpin secara internalisasi berusaha untuk mengintospeksi diri (mulat sarira) atau dalam bahasa yang lain adalah mayoga artinya melakukan sebuah perenungan untuk membangun jiwa yang stabil.

Katha Upanisad, Mandala I, Sukta 3, Mantra 3 :
“Atmanam rathinam viddhi, sariram ratham eva tu,
Buddhim tu sarathim viddhi manah pragraham eva ca,
Indriani hayan ahur visayam tesu gicaran,
Atmendrye mano yuktam bhokteti ahur manisinam”.

Terjemahannya.
“Kethuilah Atman adalah sebagai tuannya, badan jasmani adalah badan kereta. Ketahuilah bahwa budhi itu adalah kusirnya kereta sedangkan pikiran adalah tali kekang. Indria adalah disebut kudanya kereta, sasaran indria adalah jalan. Atman dihubungkan dengan badan, indria dan pikiran. Ialah yang menikmati. Demikian orang-orang menyebutkan”.

Mantra Katha Upanisad ini secara sederhana dapat dijelaskan bahwa Pengandaian tentang keberadaan manusia itu sendiri. Bahwa agama Hindu memandang manusia itu secara utuh, yaitu tidak melihat manusia dari sudut pandang rohani semata. Manusia harus digerakkan secara utuh dengan segala totalitasnya. Seperti pengandaian manusia sebagai sebuah kereta, badan raga diandaikan badan kereta, kuda yang menarik kereta diandaikan indria, tali kekang kuda ibarat pikiran, kusir kereta ibarat budhi, pemilik kereta adalah Atman. Kereta akan dapat berjalan dengan baik kearah tujuan apabila semua unsur kereta tersebut dalam keadaan baik. Keadaan baik artinya semua unsur kereta tersebut dalam keadaan baik. Keadaan baik artinya semua unsur mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Mantra ini juga memberikan inspirasi bagaimana memimpin, membimbing dan membangun diri dan orang lain secara utuh dalam kehidupan beragama individual dan kebersamaan.

Sastra suci Veda, Kakawin Ramayana, Adhyaya I, Sloka 3 :
“Gunamanta Sang Dasaratha, Wruh sira ring Veda, Bhakti ring Deva tan marlupeng pitra puja, masih ta sireng swagotra kabeh”.

Terjemahannya.
“Bahwa Raja Dasaratha, adalah seorang pemimpin yang memahami pengetahuan suci Veda, taat beragama, Bhakti kepada Tuhan dan tidak melupakan leluhur/pendahulu-pendahulunya, serta adil dan mengasihi seluruh rakyat, umat, bawahan, dan keluarganya.

Kakawin Ramayana ini memberikan pesan kepada seseorang yang memposisikan dirinya sebagai pemimpin dan menjalakan kepemimpinannya harus menjadikan Sang Dasaratha sebagai panutan.

Mengutip terjemahan beberapa sumber-sumber Mantra / Sloka di atas, tersurat dan tersirat sebuah Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya dan Sang Sadaka.Bila dicermati berdasarkan bentuknya secara garis besar Fungsi Tri Manggalaning Yadnya di bagi menjadi dua jenis yaitu Fungsi Tri Manggalaning Yadnya berdasarkan Komponen Pelaksanaan Upacara / Upakara keagamaan, dan Fungsi Tri Manggalaning Yadnya berdasarkan komponen / struktur  Kelembagaan Umat,  baik dalam putaran ke luar/ke-jaba (eksternalisasi) maupun dalam putaran ke dalam / ke-jero (internalisasi) yaitu sbb:

1.  Fungsi Tri Manggalaning Yadnya berdasarkan Komponen Pelaksanaan Upacara/Upakara keagamaan.

1)     Sang Sadaka adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Jnana dan Raja yoga, dengan TUPOKSI-nya sbb:
a)  Sang Sadaka harus berguru kepada Agni (Tuhan).
b)  Sang Sadaka melaksanakan kebenaran / Kejujuran / Kebajikan (satya), hukum (rta), inisiasi / penyucian (diksa), pengendalian indria (tapa), Kirthanam / pujian / Gita / doa (brahma),  pengorbanan, homa yadnya atau Agni Hotra (yajna).
c)  Sang Sadaka adalah Pemimpin dari Tri Varna yang lainnya dalam kontek Catur Varna.
d)  Sang Sadaka adalah Pemimpin  dari Sang Widya dan Sang Yajamana secara hirarki / vertikal / Top-down dalam kontek menyelesaikan ritual, menuntun umat, meramu dan menghidangkan hidangan spiritual / rohani (Sanghyang Rama Desa dan Rare Angon) kepada umat.
e)  Secara horizontal dalam kontek material ritual / jasmaniah harus bersinergi untuk secara bersama-sama dengan Sang Widya, dan Sang Yajamana dan umat secara umum menyukseskan pelaksanaan yadnya dan sebagai Duta Dharma.
2)     Sang Widya, adalah Sang Manggala /pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Karma dan Jnana, dengan Tupoksi-nya sbb:
a)  Sang Widya harus berguru kepada Agni melalui sastra Suci-Nya (Sanghyang Aji Saraswati), mohon tuntunan, dan keselamatan serta perlindungan kepada Agni (Tuhan).
b)  Sang Widya hendak berguru (minta petujuk, belajar, hormat) kepada Sang Sadaka (Sang Dwijati).
c)  Sang Widya adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan orang yang memiliki kewenangan untuk mengatur, membuat upakara yadnya ( Sang Tapini bersama Sarati banten ), dan orang yang berpengetahuan, memiliki kewenangan memimpin, mengatur, mengarahkan ( Penyarikan )  dan  pengambilan sebuah kebijakan untuk suksesnya sebuah yadnya serta juga sebagai Duta Dharma ( Misalnya: Ketua PHDI, Kelian Adat ). 

3)  Sang Yajamana, adalah Sang Manggala / pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Bhakti dan Karma, dengan TUPOKSI-nya sbb:
a)  Sang Yajamana harus berguru kepada Agni melalui sastra suci-Nya (Sanghyang Aji Saraswati), mohon tuntunan, dan keselamatan serta perlindungan kepada Agni (Tuhan).
b)  Sang Yajamana hendaknya berguru (minta petujuk, belajar, hormat) kepada Sang Sadaka (Sang Dwijati) dan Sang Widya.
c)  Sang Yajamana adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan pelaku yadnya yang dipilih berdasarkan musyawarah mufakat untuk menjadi pemimpin atau panitia penyelenggara yadnya untuk mengkordinir pelaksanaan upacara / upakara yadnya dengan memperdayakan umat sedharma sebagai pekerja / pelaku, tenaga operasional untuk menyukseskan sebuah pelaksanaan yadnya yang direncanakan.
d)  Sang Yajamana hendaknya dengan rasa bhakti dan ketulusannya sebagai pelaku yadnya.

2.  Fungsi Tri Manggalaning Yadnya berdasarkan Komponen/struktur  Kelembagaan Umat. Contoh:  Majelis Umat Hindu PHDI
1)    Sang Sadaka adalah Sang Manggala / pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Jnana dan Raja yoga, dengan TUPOKSI-nya sbb:
a.  Sang Sadaka harus berguru kepada Agni (Tuhan).
b.  Sang Sadaka melaksanakan kebenaran/Kejujuran/Kebajikan (satya), hukum (rta), inisiasi / penyucian (diksa), pengendalian indria (tapa), Kirthanam/pujian / Gita / doa (brahma),  pengorbanan, homa yadnya atau Agni Hotra (yajna).
c.   Sang Sadaka adalah Pemimpin dari Tri Varna yang lainnya dalam kontek Catur Varna.
d.  Sang Sadaka adalah Pemimpin, penasehat dari Sang Widya dan Sang Yajamana secara hirarki / vertikal dalam kontek Bisama / Fatwa Pendidikan (Tattwa, Susila, Acara), Hukum, Sosial, ritual, dan spritual / rohani.
e.  Secara horizontal dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas umat Hindu melalui pembinaan harus bersinergi dengan Sang Widya dan Sang Yajamana untuk secara bersama-sama membangun Hindu.

2)    Sang Widya, adalah Sang Manggala / pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Karma dan Jnana, dengan Tupoksi-nya sbb:
a.  Sang Widya harus berguru kepada Agni melalui sastra suci-Nya (Sanghyang Aji Saraswati), mohon tuntunan, dan keselamatan serta perlindungan kepada Agni (Tuhan).
b.  Sang Widya hendak berguru (minta petujuk, belajar, hormat) kepada Sang Sadaka (Sang Dwijati).
c.   Sang Widya adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan orang yang memiliki kewenangan untuk memiliki kewenangan memimpin, mengatur, mengarahkan (Penyarikan), Duta Dharma dan  pengambilan sebuah kebijakan yang dipilih berdasarkan musyawarah mufakat untuk menjadi pemimpin atau pengurus harian, untuk menata kehidupan keberagamaan Hindu secara menyeluruh dan merumuskan/mengkaji aspek-aspek ajaran Agama Hindu yang berdasarkan Sumber-sumber Hukum Hindu.

3)    Sang Yajamana, adalah Sang Manggala / pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Bhakti dan Karma, dengan Tupoksi-nya sbb:
a.  Sang Yajamana harus berguru kepada Agni melalui sastra suci-Nya (Sanghyang Aji Saraswati), mohon tuntunan, dan keselamatan serta perlindungan kepada Agni (Tuhan).
b.  Sang Yajamana hendaknya berguru (minta petujuk, belajar, hormat) kepada Sang Sadaka (Sang Dwijati) dan Sang Widya.
c.   Sang Yajamana adalah seluruh umat sedharma yang dengan rasa bhaktinya sebagai umat yang siap diberdayakan dan sebagai pelaku untuk membangun Hindu. Sehingga dalam hal ini prinsip yang harus ditumbuhkan dalam diri umat sedharma adalah bahwa semua Konsep / sistem/tatanan itu dibuat dari umat, oleh umat dan untuk umat. Dengan tujuan yaitu tercapainya “Moksartam Jagadhita ya ca iti dharma”.


Mengorganisasikan umat Hindu ke dalam Tri Manggalaning Yadnya dalam kontek beragama kebersamaan dan kelembagaan umat Hindu serta untuk mengupayakan mengeleminir potensi konflik dan usaha meningkatkan kuantitas dan kualitas hidup, kehidupan umat Hindu dalam kontek beragama kebersamaan (komunal) dan kelembagaan umat Hindu. Demikian pula Peranan, Tugas Pokok dan Fungsi  Tri Manggalaning Yadnya untuk   mengupayakan agar dalam usaha meningkatkan kuantitas dan kualitas Hidup, Kehidupan umat Hindu dalam Kontek beragama Indhividu (personal) dan sebagai warga masyrakat adalah merupakan target yang hendak kita wujudkan dengan bersinergi secara utuh dan meyeluruh melalui langkah-langkah yang konkrit dan mengantarkan terhadap perkembangan dan kemajuan umat.

Banyak sastra suci Veda yang dapat dipedomani untuk mencapai target keberagamaan Hindu seperti yang telah diuraikan diatas yaitu setiap komponen Tri Manggalaning Yadnya selalu menumbuhkan rasa bhakti (hormat, mengasihi, menyayangi, penyucian, pemuliaan dan penyatuan) terhadap dirinya dan diluar dirinya, seperti apa yang tersirat dan tersurat dalam Kitab Suci Veda yaitu Bhagvadgita, IX.27 sebagai berikut :
“Yat karosi yad asnasi,
Yaj juhosi dadasiyat,
Yat tapasyasi kaunteya,
Tat kurusva madharpanam”

Artinya :
“Apapun yang engkau kerjakan, engkau makan, engkau persembahkan, engkau dermakan, dan disiplin apapun engkau laksanakan, lakukanlah wahai manusia sebagai Bhakti kepada-Ku”.

Selain berpedoman kepada ucap kitap suci Bhagavadgita tadi, dalam kitab Bhagavata Purana, VII.5.23 menyebutkan 9 (sembilan) cara berbhakti yang disebut Nawa Vida Bhakti secara Vertikal antara manusia dengan Tuhannya, dan secara Horizontal antara manusia dengan sesamanya dan lingkungannya. Dinyatakan dalam Mantra/Sloka sebagai berikut :
“Srawanam kirtanam Visnuh,
Smaranam padasevanam,
Arcanam wandanam dasyam,
Sakyam atmanivedanam”.

Makna Sloka tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.  Sravanam.
Sravanam adalah Bhakti dengan jalan mendengar. Arah secara vertikal dari bhakti mendengar ini adalah dalam hal ini manusia hendaknya meyakini dan mendengarkan sabda-sabda suci dari Tuhan baik yang tersurat maupun tersirat dalam kitab suci Veda yang dijabarkan di dalam sumber-sumber hukum Hindu yaitu; Sruti (Wahyu Langsung dari Tuhan), Smerti (Mantra/Sloka suci berdasarkan ingatan para Maha Rsi), Sila (prilaku atau kebiasaan suci dari orang-orang suci/Rsi), Acara (tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun) dan Atmanastuti (keseimbangan bhatin jiwa). Tetapi penomena arah secara vertikal dari bhkati mendengar yang kita jumpai di tengah-tengah kehidupan kita, tidak sedikit manusia yang tidak mau mendengarkan sabda-sabda suci itu, kenyataan ini diperkuat apabila ada orang yang mewartakan ajaran tentang kebajikan, kebenaran, kesucian, dll tentang sabda suci Tuhan justru yang terjadi malah ketidak pedulian, pelecehan, atau dengan kata lain respon yang muncul menunjukan kekurang tertarikan akan pewartaan itu. Contoh kecil saja di sebagian banyak orang tidak mau mendengar atau bahkan mengantuk apabila ada ceramah-ceramah agama (Dharma Wacana) baik itu di tempat-tempat suci atau pewartaan melalui media cetak yang lain. Tetapi kalau ada pewartaan/tayangan sinetron tentang gosip, fitnah, kekerasan, diskriminasi, dll justru menjadi sebuah konsumsi bagaikan seorang pecandu.

Selanjutnya arah secara horizontal, bhakti mendengar ini hendaknya manusia dalam hidup dan kehidupannya mau mendengarkan pewartaan tentang sesamanya, dan lingkungannya. Tetapi penomena yang sering terjadi tidak sedikit juga orang yang tidak peduli akan berita-berita tentang teragedi kemanusiaan dan kerusakan lingkungan. Padahal dalam hidup ini untuk mewujudkan cita-cita atau visi/misi hidup hendaknya dimulai dengan adanya kemauan dan kesadaran untuk mendengar, dari konsep dasar yang dimliki dari hasil mendengar inilah kemudian tindaklanjuti dengan berupaya untuk berbuat atau mencari solusi yang terbaik apabila kita mengambil sebuah tindakan akan kemanusiaan/sesama dan lingkungan. Contoh; antar sesama, mestinya kita mau mendengar apa yang diwacanakan orang lain, sikap ini adalah sebuah sikap insklusif yaitu sebuah sikap yang mau mendengarkan kebenaran dari orang lain, karena dalam diri ada kebenaran tetapi diluar diri juga masih banyak kebenaran yang belum kita ketahui. Untuk itu pesan yang ingin disampaikan melalui bhakti dengan jalan mendengar ini adalah mari dalam hidup ini kita selalu berupaya untuk membudayakan untuk mendengar, baik mendengar secara vertical maupun secara horizontal. Karena menurut ajaran Agama Hindu baik mendengar (berguru) ataupun memberi pendengaran/pewartaan (menggurui) apabila sama-sama dilandasi dengan rasa bhakti maka semua akan mendapat hasil (pahala) atau paling tidak dapat manfaat dari bhakti mendegar ini. Iklim saling bhakti mendengar ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

2.  Kirtanam.
Kirtanam adalah Bhakti dengan jalan Melantunkan Gita(Nyayian atau Kidung suci) /Zikir. Bhakti ini juga di arahkan menjadi dua arah baik secara vertical maupun secara horizontal. Arah vertical mari kita lakukan kirtanam untuk menumbuhkan dan membangkitkan nilai-nilai spiritual yang ada dalam jiwa kita, dengan jiwa spirituallah kita akan keluar dari pertikaian, kegelapan untuk menuju perdamaian dan kebahagiaan yang abadi. Arah horizontal mari kita berusaha untuk melantunkan kirtanam yang dapat menyejukan orang lain dan lingkungan kita. Kepada sesama mari kita tidak hanya melantunkan kritikan/cemohan tapi berilah saran/solusi yang terbaik bagi kepentingan bersama dalam perdamaian, keberagamaan, dan kemanusiaan, bila perlu berilah pujian dan pengakuan akan keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai. selanjutnya kepada linkungan mari kita ikuti jejak Ebit G. Ade untuk melantunkan kirtanam kepada alam sekitar kita. Bagaimana caranya ? kata Ebit,  mari kita tanyakan kepada rumput yang bergoyang. Iklim saling bhakti Kirthanam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

3. Smaranam.
Smaranam adalah Bhakti dengan jalan Mengingat. Arah vertical mari dalam menjalani dan menata kehidupan ini kita selalu untuk mengingat, mengingat tentang intruksi/pesan yang disampaikan oleh Tuhan kepada umat manusia, yang bisa dijadikan sebagai pedoman atau pegangan hidup dalam hidup di dunia dan di alam sunya (akhirat) nanti. Arah secara horizontal apabila dikaitkan dengan isu-isu perdamaian, demokrasi dan Gender maka mari kita berusaha untuk mengingat kembali musibah, penderitaan, bencana, dll. yang diakibatkan oleh konflik-konflik/pertikaian, kesewenang-wenangan dan diskriminasi antara satu dengan yang lain ataupun antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang tidak/kurang memahami dan menghargai indahnya sebuah kebhinekaan/pluralisme. Harapannya dengan mengingat tragedi-tragedi itu maka mari kita selalu mewartakan akan indahnya kebhinekaan/pluralisme apabila kita kemas dalam satu bingkai yaitu bingkai persatuan, kedamaian, demokrasi dan Gender. Iklim saling bhakti Smaranam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

4. Padasevanam.
Padasevanam adalah Bhakti dengan jalan Menyembah/ Sujud/Hormat. Arah vertikal mari dalam menjalani dan menata kehidupan ini kita selalu sujud dan hormat kepada Tuhan, hormat dan sujud terhadap intruksi dan pesan dari hukum Tuhan (Rtam). Arah horizontal mari kita selalu menumbuhkan kesadaran untuk menghormati para pendahulu kita, pemerintah dan peraturan perundang-undangan yang telah dijadikan dan disepakati sebagai sumber hukum, para pemimpin kita, para orang tua kita dan yang tidak kalah penting juga hormat/sujud kepada Ibu Pertiwi. Karena dengan adanya kesadaran untuk saling menghormati inilah kita akan bisa hidup berdampingan dalam kebhinekaan/pluralisme sehingga terwujud kesatuan dalam keberagamaan Hindu. Iklim saling bhakti Padasevanam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

5. Arcanam.
Arcanam adalah Bhakti dengan jalan Penguatan, Pengakuan dan Pemberian Penghargaan. Arah vertikal mari dalam menjalani dan menata kehidupan ini kita hendaknya menunjukan rasa hormat /sujud kita kepada Tuhan dengan penguatan jiwa atau sraddha yang kuat dengan jalan menghaturkan sebuah penghargaan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas tuntunan, bimbingan, perlindungan, kekuatan, kesehatan dan anugrah yang diberikan Tuhan kepada seluruh sekalian alam. Arah horizontal mari kita terutama kepada sesama dalam hidup ini kita harus belajar untuk memberikan penguatan/penghargaan kepada orang lain. Contoh, Pemerintah/pemimpin hendaknya memberikan penghargaan kepada rakyatnya yang telah menunjukan dedikasinya tinggi terhadap segala aspek kehidupan demi kemajuan Negara Indonesia ini. Demikian juga rakyat hendaknya memberikan sebuah pengakuan dan penghargaan apabila ada pemimpin yang betul-betul mengabdi untuk kepentingan bangsa dan Negara dan bahkan dunia. Karena pemimpin yang baik menghargai rakyatnya, demikian juga sebaliknya. Iklim saling bhakti Arcanam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

6. Wandanam.
Wandanam adalah Bhakti dengan jalan Membaca. Arah vertikal mari dalam menjalani dan menata kehidupan kita ini dengan selalu meluangkan waktu untuk membaca kitab suci, sastra sastra suci, dan pengetahuan yang lain tentang Tuhan  sebagai pedoman hidup, sehingga arah pilihan hidup kita ini sesuai dengan apa sabda suci Tuhan yang tertuang dalam kitab suci/atau sumber hukum agama yang kita anut, tentunya dengan selalu tidak menutup diri/mengabaikan hal-hal yang ada diluar diri kita. Arah horizontal mari kita, terutama kepada sesama dan lingkungan sekitar kita untuk selalu membaca situasi untuk menuju arah yang lebih baik, baik yang dimaksud selalu dalam bingkai persatuan, kedamaian, demokrasi dan gender. Karena apabila salah dalam membaca situasi maka salah juga dalam pengambilan keputusan. Iklim saling bhakti Wandanam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

7. Dasyam.
Dasyam adalah Bhakti dengan jalan Mengabdi/Pelayanan. Arah vertical mari dalam menjalani dan menata kehidupan kita ini, mari bersama sama kita belajar dan mau untuk mengabdikan diri kita kepada Tuhan, karena hanya kepada Beliaulah kita semua sekalian alam memohon segalanya apa yang kita harapkan. Termasuk harapan akan persatuan, kedamaian, demokrasi gender, dll. Arah horizontal mari kita, terutama kepada sesama dan lingkungan sekitar kita untuk selalu dan mau mengabdikan diri untuk kepentingan berbangsa dan bernegara, kedamaian abadi dan kemanusiaan. Iklim saling bhakti Dasyam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

8. Sakyam.
Sakyam adalah Bhakti dengan jalan Kasih Persahabatan, Mentaati Hukum dan tidak merusak system Hukum. Baik arah vertical dan horizontal, baik dalam kehidupan matrial dan spiritual mari kita berusaha untuk tidak merusak system hukum, dan selalu dijalan kasih persahabatan. Seperti ucap banyak sabda-sabda suci dalam kitab suci yang kita pilih sebagai pedoman dan tuntunan kihidupan baik jasmani maupun rohani kita. Iklim saling bhakti Sakyam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.

9. Atmanivedanam.
Atmanivedanam adalah Bhakti dengan jalan Berlindung dan Penyerahan diri secara tulus ikhlas, kepada Tuhan secara vertikal. Secara horizontal Bhakti dengan jalan Berlindung dan Penyerahan diri secara tulus ikhlas kepada sesama dan lingkungan/ibu pertiwi, baik dalam kehidupan duniawi (nyata) maupun kehidupan sunya (niskala). Iklim saling bhakti Atmanivedanam ini sangat dibutuhkan oleh Tri Manggalaning Yandnya.


 III. PENUTUP

Ketiga komponen Tri Manggalaning Yadnya ini, antara yang satu dengan yang lainnya hendaknya harus selalu bersinergi dan Bhakti (hormat, sujud, mencintai, mengasihi, ikhlas) serta tiada henti-hentinya untuk selalu berjuang dan mempertahankan agar  nilai Kesucian, Ketulusan, Kebersamaan, Penyatuan, dan Pemuliaan dapat tercapai dan dipertahankan. Kitab Suci Veda menyatakan, sbb:

“Om Samani va akutih, samana hrdayani vah, Samanam astu vo mano, yatha vah susahasati ”.

Terjemahannya.
“Om Ya Tuhan, semoga samalah hendaknya tujuan kami, samalah hendaknya hati kami, samalah pikiran kami, Semoga kami dapat hidup bahagia bersama-sama (satu dalam kebahagiaan)”. (Rgveda, X.191.2)

“Neha Bhikramanaso sti,
Pratyavayo na vidyate,
Svalpam apy asya dharmasya,
Trayate mahato bhayat”.

Terjemahannya.
“Dalam hal ini tidak ada usaha sia-sia, dan juga tak ada rintangan yang tak teratasi, Walau sedikit dari dharma ini akan membebaskan dari cenkraman ngeri/kesengsaraan” (Bhagavadgita,II.40).

Pesan yang patut juga ditindaklanjuti oleh Tri Manggalaning Yadnya seperti ucap sastra suci  Kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:

“Mucap ta ya tumut ri sabda ya manon mamoring mata,
Pada waktu berkata beliau ada dalam perkataan,
(Rikala mabawos Ida Wenten ring babawosan).

Ngungasta ya lulut ri gandha mamangan tumut mangrasa,
Pada Waktu mencium/kepekaan beliau ada dalam kepekaan, pada waktu makan beliau ada dalam makanan,
(Rikala ngambu Ida ledang ring ambu, rikala ngajeng Ida sareng ring rasa),

Mangidepa tumut ri citta matutur sama tankari,
Pada Waktu berpikir beliau ada dalam pikiran, pada waktu berwacana beliau ada dalam wacana dan tidak henti-henti untuk mewartakan.
(Rikala mapikayun Ida Wenten ring kayun miwah tan mari ring pangeling eling),

Manusuksma siluman ri ngambeka sarira pancendriya”.
Hendaknya beliau menjadi intisari dalam tubuh yang selanjutnya di jawantahkan melaui segenap indriya. (Meraga singid ring pikayun maangga sarira antuk Panca Indrya).

Sebagai wasana kata, semoga proses hidup, kehidupan dan aktivitas keagamaan yang kita lakukan dan kita jalani: Dari Nara (Manusia) menuju Narayana (Dewa), Bukan sebaliknya yaitu dari Nara (Manusia) menuju Narayana (Dewa) dan berakhir jadi Narapidana (Penderitaan/ketidakharmonisan/kehancuran). Semoga bermanfaat dan…

“Om Santih, Santih, Santih Om”
Update : 26 Juni 2017

Pranam- Mendrajyothi.

Artikel Menarik Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...