teks berjalan

karmany evadhikarãste, mã phalesu kadãcana, mã karma-phala-hetur bhŭr , mã te sango ‘stv akarmani (B.G. Dwitiya adhyaya, sloka 47) -- Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula berdiam diri tanpa kerja.

Generasi Muda Hindu Anti Narkoba

Tampilkan postingan dengan label TATTWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TATTWA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2025

Filosofi dan Makna Penjor: Ternyata Banyak Yang Tidak Paham

Filosofi dan Makna Penjor
I Nyoman Suweta, S.Ag.
(Penyuluh Agama Hindu Ahli Madya Kemenag Kota Baubau)
Editor: Pande Kadek Juliana

Penjor adalah salah satu bentuk upakara yang di gunakan pada saat hari raya tertentu salah satunya yang fenomena adalah rerahinan gumi atau piodalan jagat Galungan. Sehingga setiap hari raya Galungan selalu ada penjor bahkan jika tidak ada penjor orang tersebut di anggap tidak merayakan hari raya Galungan. Penjor bukanlah hiasan biasa yang bisa di gunakan dimana saja dan di isi apa saja, penjor merupakan bagian dari pelaksanaan Galungan yang sangat sakral sehingga keberadaannya harus sesuai dengan tatwa atau falsafah agama Hindu. 

Kamis, 19 September 2024

Hari Baik Dan Buruk Untuk Menikah Menurut Hindu

( Ala Ayuning Dewasa Wiwaha)

Oleh : I Nyoman Suweta, S.Ag (Penyuluh Agama Ahli Madya Kemenag Kota Baubau)

A. PENDAHULUAN

Alam semesta beserta isinya mempengaruhi kehidupan manusia disetiap siklusnya akan memberikan fibrasinya, serta setiap gejalanya akan memberikan akibat pada kehidupan di dalamnya. Hal inilah oleh para sujana dan ilmuwan dibaca baik secara spiritual maupuh akademis yang dijadikan sebuah kajian dan berahir dalam sebuah ilmu pengetahuan empiris. Salah satu ilmu yang sudah kita dapat pelajari sekarang ini adalah ilmu astronomi (perbintangan), Metrologi, Klimatologi dan Geofisika. Dalam ilmu agama sudah duluan dikaji dalam Weda Smerti (Smart/Pintar/Ilmu Pengetahuan) yang disebut dengan Jyiontisa. Kemudian di Bali dikembangkan menjadi Wariga (Ala Ayuning Dewasa), bernama Wariga karena di Bali  hari baik  dan buruk lebih dominan digunakan untuk hal hal yang bersifat agraris sehingga lebih fasih di sebut Wariga ( salah satu wuku untuk menghormati atau memulikan pohon). 

Selasa, 27 Juni 2017

KELUH KESAH DAN KERAGUAN

I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H
Om Swastyastu, tulisan ini hanyalah curahan hati yang disebabkan oleh gerak pikiran yang bergerak kesana-kemari, istrirahat sejenak lalu mengkotak-katik lektop untuk sebuah ikhtiar agar tetap terkendali disaat susah dan lelah menghampiri, mengingat susah-lelah akan terus memotivasi keluh-kesah dan keraguan dalam diri. Secercah cahaya bhatin menyinari pikiran, lalu bergerak sampai pada “Disaat Bhagavan Shri Krishna memeberikan wejangan kepada Arjuna, dimana kala itu Arjuna larut oleh pengaruh daya kekuatan dari keluh kesah dan keraguan dalam dirinya, ketimbang memelihara sifat sifat Brahmana dan Kestria-nya. Pada saat itu Bhagavan Shri Krishna menanggapi pandangan dan perasaan yang dialami oleh Arjuna dan menjelaskan dasar-dasar pemikiran Samkhya- Yoga kepada Arjuna. Pranam. Om Subhamastu.

Senin, 26 Juni 2017

ENAM LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEDAMAIAN MENURUT KITAB ATHARVA VEDA

ENAM LANGKAH UNTUK MENCIPTAKAN KEDAMAIAN
MENURUT KITAB ATHARVA VEDA

Oleh : I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H

Untuk mengawali apa yang diwacanakan pada kesempatan ini, sebelumnya terimalah salam Panganjali Umat; “Om Swastyastu” dan Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU (Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)

KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU
(Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)


Oleh: I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H

Jumat, 03 Februari 2017

Dahsyatnya Cinta (Menguak Konversi Agama Atas Nama Cinta) #SaveMenNik

Sebelum kita bercerita ke arah tujuan utama goresan tangan di atas keyboard ini, baiknya kita menyimak cerita berikut. 
=============================================
Hoax & Dronna Sindroom

Arahkan pikiranmu ke Medan Perang Kuruksetra pada Epos Besar Mahabaratha sekarang, dan lihatlah!

Ilustasi gambar : Guru Drona
Krisna tahu benar bahwa Rsi Drona sangat sulit bahkan mustahil untuk dikalahkan di dalam peperangan. Sepanjang Rsi Drona dengan kesadaran penuh memegang langkap, selama itulah beliau tidak terkalahkan. Akhirnya Krishna menemukan titik kelemahan sang murid Rsi Bharghawa. Tresna (cinta). Ia, CINTA adalah kelemahan paling buruk dari setiap ksatria semacam Rsi Drona.

Rabu, 27 Januari 2016

Cara Membuat Pemedal (Pintu Masuk)

Cara Membuat Pintu Masuk (Pemedal)
Menurut Asta  Kosala Kosali dan Asta Bumi

Oleh : I Nyoman Suweta, S.Ag
A.     Pendahuluan
         Seiring dengan perkembangan zaman kini semakin menjadi trend “selaras dengan alam” di mana setiap kehidupan kita dengan alam terutama tanah dan elemen lainnya untuk menjaga keharmonisan dimana salah satunya dengan menempatkan bangunan, bentuk dan lainnya sesuai dengan hitungan. Bagi orang Tioghoaada “fengsui” dan di Bali yang merupakan Budaya Nusantara di kenal dengan “Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi”
         Salah satu problem yang di jumpai bagaimana menempatkan pintu masuk (pemedal), terutama padalahan sempit seperti di perkotaan atau BTN, perumahan dan lainnya. Karena pintu masuk juga sangat penting memberi “fibrasi” atau pengaruh pada rumah yang menempatinya. Atas dasar tersebut berikut cara mencari pintu masuk (pemedal) menurut Asta Kosala Kosali yang di sari kan dua sumber yaitu Wariga Dewasa karya Sri Reshi Ananda Kusumadan Asta Kosala Kosali Karya I WayanBidja.

Jumat, 15 Mei 2015

Kanda Pat - Sang Hyang Catur Sanak

Kelahiran Manusia Mempunyai Saudara Empat
Dalam Kanda Pat diceritakan kelahiran manusia mempunyai saudara sebanyak empat yang terdiri dari Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Pada usia kehamilkan enam bulan terbentuklah empat saudara yakni Babu Lembana, Babu Abra, Babu Ugian, Babu Kekered. Pada umur kehamilan sepuluh bulan lahirlah sang bayi beserta saudaranya yakni ari-ari disebut Sang Anta, tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen). Keempat saudara ini yang memelihara semasih dalam kandungan. Ketika lahir keempat saudara tersebut berpisah dan berganti nama menjadi I Salahir (Anta), I Makahir (Preta), I Mekahir (Kala), dan I Salabir (Dengen), sedangkan badan manusia sendiri disebut dengan I Legaprana. Keempat saudara yang telah terpisah tersebut masih saling ingat satu sama lain. Kemudian kira-kira selama empat tahun kemudian, keempat saudara tersebut saling melupakan, dan menjelajahi dunianya sendiri-sendiri. I Salahir ke timur berganti nama menjadi Sang Hyang Anggapati, I Makahir ke selatan berganti nama menjadi Sanghyang Prajapati, I Mekahir ke barat menjadi Sanghyang Banaspati, I Salabir ke utara menjadi Sanghyang Banaspatiraja.

Tingkatan Caru dan Binatang yang Dipakai

CARU pada hakikatanya dipahami sebagai persembahan untuk Bhuta Kala. Upacara caru dimaknai sebagai upacara untuk menjaga keharmonisan alam, manusia dan waktu.
Di Bali Dikenal Tiga Jenis Caru
1. Caru Palemahan Bumi Sudha yaitu upacara caru untuk tempat atau wilayah. Baik itu untuk mengharmoniskan tempat untuk dipakai tempat suci, dibangun rumah, atau sebuah wilayah yang tertimpa musibah.
2. Caru Sasih yaitu caru yang dilaksanakan berkaitan dengan waktu-waktu tertentu yang dipandang perlu diharmoniskan. Misalnya Caru Sasih Sanga (sehari sebelum Nyepi)
3. Caru Oton yaitu caru untuk orang atau benda sebagai unsur bhuana agung yang mengalami berbagai siklus, baik terhadap waktu maupun perkembangannya. Misalnya caru oton untuk anak yang baru lahir, untuk perkawinan, akil balik, kematian dll. yang sering juga disebut dengan byakala.
Banten caru biasanya berisikan hal-hal khas
1. Aneka macam nasi, baik warna maupun bentuk
2. Aneka bumbu-bumbuan (bawang, jahe, terasi, garam)
3. Daging (terutama bagian jeroan)
4. Arang
5. Darah
6. Blulang atau bayang-bayang binatang
7. Tuak, arak dan berem
8. Api takep
9. Aneka bunyi-bunyian

Jumat, 01 Mei 2015

Boleh Berbohong?

Dalam Ajaran Hindu mengenal Panca Nrta yaitu Lima kebohongan yang diperbolehkan. pembagiannya antara lain:

1. Berbohong Kepada Anak-anak
Misalnya membohongi anak kecil kalau dia menduduki bantal maka akan bisulan. Padahal secara logika, mana mungkin bantal bisa membuat bisulan. Tujuan dari kebohongan ini adalah menjaga sopan santun sang anak bahwa bantal untuk kepala tidak boleh diduduki.

2. Berbohong dalam Dunia Perdagangan
Untuk memperoleh untung, seorang pedagang memang berbohong ketika menjual sesuatu barnag miliknya. Akan sangat tidak mungkin jika seseorang menjual barang dagangannya sesuai dengan harga aslinya, maka pedagang itu pasti akan rugi mengingat biaya transportasi dan lain sebagainya harus diperhitungkan.

3. Berbohong Kepada Musuh
Misalnya, saat di medan perang, kita tertangkap oleh musuh dan jiwa kita terancam jika tidak memberi informasi. Dalam keadaan seperti ini kita boleh berbohong dalam memberikan informasi.

4. Berbohong Kepada Pasangan
Aturan ini berlaku untuk pasangan yang sudah terikat janji suci pernikahan. Mengapa boleh berbohong pada pasangan? Ini tujuannya cukup baik yaitu menjaga keharmonisan rumah tangga. Misalnya, di pagi hari seorang istri membuatkan sarapan untuk suaminya. Tentu suaminya memuji bahwa masakan istrinya sangat enak, walau kenyataannya mungkin rasanya asin.

5. Berbohong Kepada Orang Sakit
Misalnya, jika kita menjenguk seorang kawan di rumah sakit. Selalu katakan “Kamu akan segera sembuh”, baik itu kebenaran atau kebohongan. Namun, jika kita mengatakan “umurmu tinggal 7 hari lagi”. Coba kita pikirkan, bagaimana perasaan orang tersebut.

Artikel Menarik Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...