![]() |
| Pembimas Hindu Memberikan Sambutan |
Disampaikan pula bahwa
kehadiran Sulinggih baru ini merupakan anugerah dan kabar yang sangat
menggembirakan bagi umat Hindu Sulawesi Tenggara. Dengan ditetapkannya Pandita
anyar tersebut, maka jumlah Sulinggih di Provinsi Sulawesi Tenggara kini
menjadi 14 orang, sebuah capaian penting yang menunjukkan dinamika dan
pertumbuhan spiritual umat, khususnya dalam dua tahun terakhir. Keberadaan
Sulinggih sangat dibutuhkan oleh umat. Kehadiran Sulinggih baru ini melengkapi
sekaligus menambah energi layanan keagamaan Hindu di Sulawesi Tenggara,
terutama dalam pelayanan upacara, pembinaan rohani, serta penguatan nilai-nilai
dharma di tengah Masyarakat, ujar Pembimas Hindu Sultra.
Panggilan Menjadi Sulinggih: Kesaksian Batin, Air Mata Harapan dan Tanggung Jawab
Dalam perjalanan belasan tahun menghampiri 15 Tahun tahun mendampingi umat Hindu di Sulawesi Tenggara sebagai dan hamper 10 Tahun sebagai Sekretaris PHDI Sultra, telah berupaya memfasilitasi adminitrasi, dukungan moril melalui proses Diksa Pariksa dan pengukuhan Lokaphalasraya Pandita, saya tidak hanya mencatat data dan administrasi. Saya menyaksikan wajah-wajah penuh harap, kegelisahan batin, keteguhan tapa brata, dan doa-doa sunyi umat yang dengan tulus ingin mempersembahkan hidupnya bagi dharma. Dari sanalah saya memahami bahwa semangat umat Hindu untuk meningkatkan diri menjadi Pandita sungguh sangat tinggi, dan semangat itu lahir dari kedalaman batin, bukan dari dorongan formal atau struktural semata. Panggilan menjadi Pandita bukanlah jalan yang mudah, Ia menuntut pengorbanan lahir dan batin, kesediaan melepaskan kepentingan duniawi, serta kesiapan memikul beban spiritual umat, namun justru di situlah kemuliaannya. Dalam setiap proses Diksa Pariksa yang saya saksikan, tampak jelas bahwa panggilan itu tumbuh dari kesadaran suci umat akan pentingnya menghadirkan kepemimpinan rohani yang kokoh, bersih, dan membumi, yang mampu menuntun umat bukan hanya dalam upacara, tetapi juga dalam laku hidup sehari-hari.
![]() |
| Penyerahan: SK Ngelokaphalasraya Oleh Ketua PHDI Sultra |
Hingga saat ini, jumlah Pandita di Sulawesi Tenggara baru mencapai 14 orang. Secara kasat mata, jumlah ini memang masih mampu melayani umat. Namun bila direnungkan lebih dalam, dengan kebutuhan ideal minimal sekitar 50 Pandita untuk melayani kurang lebih 54.000.000 jiwa penduduk, terasa jelas bahwa pelayanan ini masih ditopang oleh ketulusan yang bekerja melampaui keterbatasan. Pada hari-hari suci besar, pada saat upacara berlangsung serentak di berbagai wilayah, kekurangan Pandita itu terasa bukan di atas kertas, tetapi di hati umat. Renungan ini menjadi semakin dalam ketika melihat ketimpangan sebaran Pandita secara wilayah. Dari 14 kabupaten/kota yang dihuni umat Hindu di Sulawesi Tenggara, Pandita masih terkonsentrasi di wilayah tertentu terutama Konawe Selatan, disusul Kolaka Timur dan Bombana. Sementara wilayah Konawe dan Kolaka, yang umatnya cukup besar, serta wilayah kepulauan seperti Kota Baubau dan Kabupaten Muna Barat, hingga kini belum memiliki Pandita. Padahal, bagi wilayah kepulauan, kehadiran minimal dua orang Pandita bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi kebutuhan batin umat yang hidup jauh dari pusat-pusat pelayanan.
Dalam keyakinan Hindu, Pandita bukan hanya pelaksana yadnya, tetapi adalah penjaga getaran suci wilayah. Banyak tokoh meyakini bahwa kehadiran Pandita yang menetap di suatu daerah membawa ketenteraman, keseimbangan dan harmoni, menjaga wilayah dari kekeringan batin dan kegaduhan niskala. Ketika Pandita hadir, umat merasa tidak sendiri doa mereka terasa lebih dekat dengan Hyang Widhi Wasa. Walaupun hari ini Pandita yang ada masih berjuang melayani umat dengan sepenuh hati, kita tidak boleh berhenti pada rasa cukup. Umat terus bertumbuh, tantangan zaman semakin kompleks, dan kebutuhan rohani semakin mendalam. Karena itu, renungan ini menjadi ajakan yang lahir dari cinta marilah kita terus mendorong, membina, dan mendampingi umat yang telah siap lahir dan batin untuk menapaki jalan suci menjadi Sulinggih.
Harapan yang tumbuh dari batin saya sederhana namun mendalam semoga setiap tahun selalu ada umat yang terpanggil, bukan karena diminta, tetapi karena mendengar suara dharma di dalam dirinya. Sebab kepanditaan bukan hanya bagian dari tatanan hidup umat Hindu, melainkan penyangga keseimbangan jagad. Ketika Pandita hadir dengan cukup dan merata, umat tidak hanya terlayani secara ritual, tetapi juga dikuatkan secara batin, dituntun secara moral dan dijaga keharmonisannya baik sekala maupun niskala. Renungan ini saya tuliskan bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai doa dan harapan. Harapan agar Sulawesi Tenggara kelak memiliki Pandita yang cukup, merata, dan menyatu dengan umatnya, harapan agar panggilan suci ini terus hidup, menyala dari generasi ke generasi, demi keutuhan dharma, kesejahteraan umat, dan keharmonisan jagad raya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar