teks berjalan

karmany evadhikarãste, mã phalesu kadãcana, mã karma-phala-hetur bhŭr , mã te sango ‘stv akarmani (B.G. Dwitiya adhyaya, sloka 47) -- Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula berdiam diri tanpa kerja.

Generasi Muda Hindu Anti Narkoba

Selasa, 10 Februari 2026

Sulinggih ke 14: SK Ngelokapalasraya di Serahkan

Pembimas Hindu Memberikan Sambutan

Konawe Selatan, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Provinsi Sulawesi Tenggara mewakili Pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama, menghadiri dan memberikan sambutan pada kegiatan Penyerahan Surat Keputusan (SK) Ngelokapalasraya Pandita kepada Pandita anyar, yang dilaksanakan di Grya Kertha Buana Sari, Desa Ataku, Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan, Selasa 03 Februari 2026. Dalam sambutannya, Pembimas Hindu Sulawesi Tenggara menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ida Pandita Mpu Astika Dwijagunananda dan Ida Pandita Mpu Stri Astika Dwijagunananda atas pelaksanaan Diksa Dwijati dan pengukuhan melalui SK Ngelokapalasraya Pandita.

Disampaikan pula bahwa kehadiran Sulinggih baru ini merupakan anugerah dan kabar yang sangat menggembirakan bagi umat Hindu Sulawesi Tenggara. Dengan ditetapkannya Pandita anyar tersebut, maka jumlah Sulinggih di Provinsi Sulawesi Tenggara kini menjadi 14 orang, sebuah capaian penting yang menunjukkan dinamika dan pertumbuhan spiritual umat, khususnya dalam dua tahun terakhir. Keberadaan Sulinggih sangat dibutuhkan oleh umat. Kehadiran Sulinggih baru ini melengkapi sekaligus menambah energi layanan keagamaan Hindu di Sulawesi Tenggara, terutama dalam pelayanan upacara, pembinaan rohani, serta penguatan nilai-nilai dharma di tengah Masyarakat, ujar Pembimas Hindu Sultra.


        Lebih lanjut ditegaskan bahwa Pemerintah melalui Kementerian Agama berkomitmen untuk terus mendukung sinergi antara Pandita, PHDI, dan seluruh komponen umat Hindu, agar pelayanan keagamaan dapat berjalan semakin optimal, merata, dan berkelanjutan hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini masih terbatas akses pelayanan Sulinggih. Kegiatan penyerahan SK dilakukan oleh Ketua Pengurus Harian dan pengurus PHDI Sulawesi Tenggara, di damping oleh Dharma Upapathi Ida Pandita Agni Jaya Shree Shree Yogiswara Sebali, para tokoh umat, pengempon griya, serta umat Hindu setempat yang hadir memberikan doa restu. Dengan diterimanya SK Ngelokapalasraya Pandita tersebut, Ida Pandita Mpu Astika Dwijagunananda dan Ida Pandita Mpu Stri Astika Dwijagunananda secara resmi menjalankan swadharma sebagai Pandita, mengabdi kepada umat, agama, dan bangsa, serta menjadi suluh dharma bagi kehidupan keumatan Hindu di Sulawesi Tenggara.

Panggilan Menjadi Sulinggih: Kesaksian Batin, Air Mata Harapan dan Tanggung Jawab

         Dalam perjalanan belasan tahun menghampiri 15 Tahun tahun mendampingi umat Hindu di Sulawesi Tenggara sebagai dan hamper 10 Tahun sebagai Sekretaris PHDI Sultra, telah berupaya memfasilitasi adminitrasi, dukungan moril melalui proses Diksa Pariksa dan pengukuhan Lokaphalasraya Pandita, saya tidak hanya mencatat data dan administrasi. Saya menyaksikan wajah-wajah penuh harap, kegelisahan batin, keteguhan tapa brata, dan doa-doa sunyi umat yang dengan tulus ingin mempersembahkan hidupnya bagi dharma. Dari sanalah saya memahami bahwa semangat umat Hindu untuk meningkatkan diri menjadi Pandita sungguh sangat tinggi, dan semangat itu lahir dari kedalaman batin, bukan dari dorongan formal atau struktural semata. Panggilan menjadi Pandita bukanlah jalan yang mudah, Ia menuntut pengorbanan lahir dan batin, kesediaan melepaskan kepentingan duniawi, serta kesiapan memikul beban spiritual umat, namun justru di situlah kemuliaannya. Dalam setiap proses Diksa Pariksa yang saya saksikan, tampak jelas bahwa panggilan itu tumbuh dari kesadaran suci umat akan pentingnya menghadirkan kepemimpinan rohani yang kokoh, bersih, dan membumi, yang mampu menuntun umat bukan hanya dalam upacara, tetapi juga dalam laku hidup sehari-hari.

Penyerahan: SK Ngelokaphalasraya Oleh Ketua PHDI Sultra

Hingga saat ini, jumlah Pandita di Sulawesi Tenggara baru mencapai 14 orang. Secara kasat mata, jumlah ini memang masih mampu melayani umat. Namun bila direnungkan lebih dalam, dengan kebutuhan ideal minimal sekitar 50 Pandita untuk melayani kurang lebih 54.000.000 jiwa penduduk, terasa jelas bahwa pelayanan ini masih ditopang oleh ketulusan yang bekerja melampaui keterbatasan. Pada hari-hari suci besar, pada saat upacara berlangsung serentak di berbagai wilayah, kekurangan Pandita itu terasa bukan di atas kertas, tetapi di hati umat. Renungan ini menjadi semakin dalam ketika melihat ketimpangan sebaran Pandita secara wilayah. Dari 14 kabupaten/kota yang dihuni umat Hindu di Sulawesi Tenggara, Pandita masih terkonsentrasi di wilayah tertentu terutama Konawe Selatan, disusul Kolaka Timur dan Bombana. Sementara wilayah Konawe dan Kolaka, yang umatnya cukup besar, serta wilayah kepulauan seperti Kota Baubau dan Kabupaten Muna Barat, hingga kini belum memiliki Pandita. Padahal, bagi wilayah kepulauan, kehadiran minimal dua orang Pandita bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi kebutuhan batin umat yang hidup jauh dari pusat-pusat pelayanan.

Dalam keyakinan Hindu, Pandita bukan hanya pelaksana yadnya, tetapi adalah penjaga getaran suci wilayah. Banyak tokoh meyakini bahwa kehadiran Pandita yang menetap di suatu daerah membawa ketenteraman, keseimbangan dan harmoni, menjaga wilayah dari kekeringan batin dan kegaduhan niskala. Ketika Pandita hadir, umat merasa tidak sendiri doa mereka terasa lebih dekat dengan Hyang Widhi Wasa. Walaupun hari ini Pandita yang ada masih berjuang melayani umat dengan sepenuh hati, kita tidak boleh berhenti pada rasa cukup. Umat terus bertumbuh, tantangan zaman semakin kompleks, dan kebutuhan rohani semakin mendalam. Karena itu, renungan ini menjadi ajakan yang lahir dari cinta marilah kita terus mendorong, membina, dan mendampingi umat yang telah siap lahir dan batin untuk menapaki jalan suci menjadi Sulinggih.

Harapan yang tumbuh dari batin saya sederhana namun mendalam semoga setiap tahun selalu ada umat yang terpanggil, bukan karena diminta, tetapi karena mendengar suara dharma di dalam dirinya. Sebab kepanditaan bukan hanya bagian dari tatanan hidup umat Hindu, melainkan penyangga keseimbangan jagad. Ketika Pandita hadir dengan cukup dan merata, umat tidak hanya terlayani secara ritual, tetapi juga dikuatkan secara batin, dituntun secara moral dan dijaga keharmonisannya baik sekala maupun niskala. Renungan ini saya tuliskan bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai doa dan harapan. Harapan agar Sulawesi Tenggara kelak memiliki Pandita yang cukup, merata, dan menyatu dengan umatnya, harapan agar panggilan suci ini terus hidup, menyala dari generasi ke generasi, demi keutuhan dharma, kesejahteraan umat, dan keharmonisan jagad raya.

Penulis: Nang Bagia: Kadek Yogiarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Menarik Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...